Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Salah satu lokasi lawatan Dakwah Nusantara TGB ialah masjid Agung Tasikmala.
Tasikmala dalam pandangan TGB adalah daerah yang banyak memiliki keistimewaan seperti banyak melahirkan ulama dan pondok pesantren yang tumbuh dan berkembang. Lebih dari itu, jauh sebelumnya daerah tersebut terkenal produktif melahirkan tokoh-tokoh yang bisa berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia.
“Tasikmala adalah tanah perjuangan.” Demikian puji dan persaksian ulama hafidz al-Qur’an tersebut.
Di awal pengajian dakwah kali, Tuan Guru Bajang menyampaikan sebuah ayat dalam surah al-Hujurat ayat 13:
يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارف إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير .
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
“Syahid” (pokok bahasan) TGB terkait ayat tersebut ialah kata لتعارف (agar kamu saling kenal-mengenal).
Kata tersebut, menurut almunus Al-Azhar Cairo Mesir di bidang tafsir ini adalah tidak hanya “saling kenal-mengenal” dalam konteks pribadi saja atau perorangan semata yang saling berkenalan lalu bertukar cerita dan kabar. Tidak! Sebab, ayat ini nyata mengatakan وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارف .
Pandangan atau pendapat Ulama yang pernah menjabat sebagai Gubernur NTB dua priode (2008-2018) ini dalam memaknakan لتعارف dengan makna demikian, diperkuat oleh maqal ulama yang berbunyi: لتعارف ليس بمعنى على المستوى الفرد وإنما على المستوى الأمام (saling kenal-mengenal tidak sebatas pengertian untuk orang perorang, tapi anatar umat).
Pengertian yang dikehendaki al-Qur’an –sesuai kata ulama– ialah cakupan yang lebih luas. “Taaruf” (pengenalan) yang melibatkan komunitas yang banyak, seperti bisa saling kenal-mengenal antar masyarakat, antar kota, daerah, ormas dan atau kelompok.
“Kalau umat Islam betul-betul menghayati makna taâruf di sini, maka –insyaallah– tidak ada gontok-gontokan antar organisasi, ketegangan antar kelompok, tidak akan ada kebencian antara umat yang satu dengan lainnya, tidak akan pernah ada terpisah atau jauh hati antara bagian dakwah yang satu dengan dakwah lainnya.” Kata TGB menyuntikkan optimisme persatuan.
Maklum, dakwah ini (2018) memang disampaikan pada masa-masa terjadi ketegangan sesama anak bangsa yang memang “sengaja” diproduksi sesuai hasrat politik segelintir orang , maraknya politisasi agama menjelang Pilpres 2019 dan juga peristiwa sebelumnya yakni kasus Ahok yang melecehkan ayat suci (al-Maidah 51).
Atas dasar pemahaman dan kesadaran penuh akan makna “taâruf” seperti tadi, mendorong Tuan Guru Bajang ringan langkah menghadiri undangan demi merajut persatuan dan “sharing” (berbagi) kebaikan, termasuk di Tasikmala kali ini.
“Atas penghayatan terhadap makna ayat tersebut, maka saya datang untuk belajar pengalaman, semangat hidup dan terus belajar dari tokoh-tokoh Tasikmalaya, juga kepada guru-guru yang mengharumkan ranah dakwah nasional dan mengharumkan dakwah Islamiyah diseluruh negeri.” Demikian kata TGB yang menggambarkan kerendahan hatinya.
Simpulannya, mari kita saling “taaruf” dengan makna saling mengisi dan sharing kebaikan demi persatuan Indonesia.
Wa Allah A’lam!
Banyumulek, 4 Januari 2021 M.




