Dakwah TGB (50) MEMPERKOKOH RASA BER-INDONESIA

Dakwah TGB (50) MEMPERKOKOH RASA BER-INDONESIA

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa

“Salah satu nilai baik yang mesti kita jaga dan rawat ialah cinta tanah air.”

Itulah sepenggal kalimat Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA pada sekmen pertama dari dakwah Nusantaranya yang disiarkan TVRI Nasional dengan tema “Satukan Shaf Indonesia” yang mengambil lokasi di Islamic Center Mataram.

Pada kesempatan yang baik tersebut, Tuan Guru Bajang meluruskan makna cinta tanah air yang sesungguhnya.

Dalam ulasannya, ulama tafsir tersebut mengatakan bahwa hakikat “Cinta tanah air” tidak sebatas yang dipahami banyak orang dengan menganggap makna “tanah air” pada sebatas tanah dan air atau benda-benda mati lainnya. Tapi, “tanah air” yang dimaksud meliputi (juga) semua manusia yang ada di dalamnya.

“Tanah air adalah peradaban-peradaban. Tanah air adalah sejarah. Tanah air adalah nilai-nilai yang hidup di tengah-tengah kita.” Tegas Gubernur NTB dua priode ini (2008-2018).

Setelah kita memahami makna “tanah air”, penting kita menghayatinya sebagai satu anugrah atau karunia dari Allah swt. Tapi, Indonesia ini, selain sebagai suatu pemberian dari-Nya, pada saat bersamaan ia juga merupakan amanah yang harus terawat dan terjaga.

Oleh sebab itu –lanjut TGB–, penting kita hayati dan renungi apa yang disampaikan Rasulullah saw. dalam sebuah hadis: لا دين لمن لا أمانة له (Tidak sempurna iman seseorang, bila ia tidak mampu menjaga amanah itu). Apa saja yang termasuk amanah itu? Bangsa dan negara Indonesia ini.

Hadis ini amat dipahami oleh seluru para pendahulu dan pejuang bangsa ini. Tak terkecuali oleh guru dan ulama kita, Pahlawan Nasional asal NTB Al-Magfurulah Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid yang diungkap dalam Wasiat Renungan Masa-nya berikut ini:

Hidupkan iman hidupkan takwa
Agar hiduplah semua jiwa
Cinta teguh pada agama
Cinta kokoh pada negara

Demikian salah satu contoh ungkapan cinta tanah air yang didengung-dengungkan oleh para tokoh agama dan panutan kita. Wasiat Maulana Syaikh mengajarkan supaya kita benar-benar menyadari hakikat Indonesia sebagai satu anugrah Ilahi.

Hanya saja, kesadaran tersebut sulit ada pada diri anak bangsa, jika ia tidak melihat betapa kekayaan Indonesia ini amat melimpah dan mahal nilainya. Termasuk, yang paling mahal ialah kemajemukan dan keberagaman penduduknya yang terikat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kekayaan kita yang paling besar dan mahal itu bukan sumber daya alam, tapi manusia Indonesia.” Kata salah satu Tokoh Nasional kita dari NTB tersebut.

Walhasil, kesadaran rakyat ingin bersama dalam satu bangsa dan negara, tentu ini sebuah karunia yang tak terhargakan. Lantas, apa yang melatarbelakangi kebersamaan tersebut? Kata TGB, yang menyatukan mereka ialah rasa kasih sayang antara yang satu dengan lainnya.

Oleh sebab itu, “Aset kita masyarakat Indonesia yang paling mahal itu ialah rasa ‘mahabbah’ atau kasih sayang antara yang satu dengan lainnya.” Kata Ketua PBNW tersebut menekankan.

Lebih dari itu, Islam sendiri mengajarkan kita cara merawat dan menumbuhkan kasih sayang itu. Dalam Islam, tidak cukup hanya mengingatkan dalam hati bahwa kita memiliki saudara, anak, keluarga dan teman sebangsa yang harus saya sayangi dan ayomi.

Namun, Islam mengajarkan praktik konkrit cara kita merawat dan menumbuhkan kasih sayang. Cara itu ulas Ketua Umum OIAA itu –salah satunya– dengan memperbanyak perjumpaan di antara kita sesama anak bangsa atau bahasa agama disebut “silaturrahim”.

Contoh konkrit itu ialah –lanjut TGB– pertemuan kita hari ini adalah bagian dari ikhtiar menumbuhkan kasih sayang di antara kita. Meskipun masih dalam suasana pandemi, perjumpaan kita tak terhalangi, sembari kita tetap mengikuti porotokol kesehatan Covid-19.

Intinya, “Memperbanyak perjumpaan akan mengokohkan persaudaraan”. Tekan TGB diujung sekmen pertamanya.

Mengapa demikian? Sebab, perjumpaan (silaturrahim) itu –kata TGB– dalam al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw. selalu ditempatkan pada posisi-posisi yang mulia. Karenanya tekan beliau:

“Mari kita mulai dari hal-hal kecil, perbanyak perjumpaan, sapa saudara kita, dan ucapkan salam. Itu semua akan memperkokoh rasa kita ber-Indonesia”. Tutup Syaikhuna TGB di bagian akhir sekmen.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 20 Desember 2020 M.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA