Cerita Pendek ke-14 : Takziah, Perjalanan, dan Pelajaran Syukur

Cerita Pendek ke-14 : Takziah, Perjalanan, dan Pelajaran Syukur

Cerita Pendek ke-14 : Takziah, Perjalanan, dan Pelajaran Syukur

Pada hari Jumat, 16 Januari 2026, saya bersama istri melangkahkan kaki menuju Perumnas Kranji, Bekasi. Kami bertakziah ke rumah duka salah seorang hamba Allah, H. Iskandar, orang tua dari tetangga kami, yang telah lebih dahulu dipanggil menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Suasana rumah duka dipenuhi keluarga besar dan para pelayat yang datang silih berganti, memanjatkan doa dengan khusyuk.

Di tengah keheningan itu, kami turut menengadahkan tangan, memohon kepada Allah agar almarhum diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya, dan kuburnya dijadikan raudhah min riyadhil jannah, taman indah dari taman-taman surga. Takziah itu menjadi pengingat bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, dan sebaik-baik bekal adalah amal saleh.

Usai menyampaikan belasungkawa, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Hasanuddin, salah seorang keponakan dari istri saya yang juga tinggal di Bekasi. Perjalanan sekitar sembilan belas menit itu ternyata menyimpan pelajaran berharga.

Di tengah perjalanan, pandangan kami tertuju pada seorang bapak tua. Tubuhnya tampak renta, langkahnya pelan, dan napasnya sesekali tersengal. Dengan penuh tenaga yang tersisa, ia menarik sebuah gerobak berisi barang-barang bekas dan rongsokan yang telah ia kumpulkan. Gerobak itu tampak berat, namun ia terus melangkah, sedikit demi sedikit, tanpa mengeluh.

Usianya telah melemahkan raga, tetapi semangatnya tetap menyala. Ia berjuang mencari rezeki demi menghidupi diri, anak, dan istrinya. Dari caranya menarik gerobak itu, tampak jelas bahwa baginya bekerja, dalam bentuk apa pun, jauh lebih mulia daripada meminta-minta atau mengharap belas kasihan orang lain.

Langkahnya memang pelan, namun tekadnya teguh. Gerobak yang ditariknya seakan menjadi saksi betapa harga diri dan tanggung jawab seorang kepala keluarga tetap ia jaga, meski hidup tak selalu ramah.

Pemandangan itu membuat kami terdiam dan merenung. Ternyata, masih banyak kehidupan yang berada “di bawah” kita dalam ukuran dunia. Saat kita merasa hidup dalam keterbatasan dan kekurangan, sesungguhnya masih ada saudara-saudara kita yang diuji dengan keadaan yang jauh lebih berat, namun tetap tegar dan penuh ikhtiar.

Dari situ kami kembali belajar untuk bersyukur. Bersyukur atas nikmat sehat, waktu, keluarga, dan rezeki yang Allah limpahkan, sekecil apa pun bentuknya. Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi juga penghargaan terhadap sesama dan kesediaan untuk saling mendoakan.

Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan pertolongan kepada setiap hamba-Nya dalam mencari rezeki, serta menjadikannya sebagai sarana untuk menyempurnakan ibadah kepada-Nya. Dan semoga melalui kisah sederhana ini, kita diingatkan bahwa hidup menuntut perjuangan, namun juga menuntut rasa syukur yang tak pernah putus. Karena dengan syukur, Allah berjanji akan menambah nikmat dan memberkahinya. Wallahu a‘lam.

Penulis : Marolah Abu Akrom 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA