Anjuran Khusyu’ Dalam Shalat
Boleh dikatakan, bahwa kwalitas shalat terletak kepada khusyu’. Semakin banyak orang mengingat Allah dalam shalat akan mendorong semangat dan kesenangan seseorang dalam mendirikan shalat. Disinilah akan terasa nikmatnya mendirikan shalat. Orang yang khusyu’ dalam shalat akan merasa senang dalam menjalankannya dan terasa ringan dalam melaksanakannya. Dan keadaan sebaliknya bagi orang yang tidak khusyu’ dalam shalat akan merasakan bahwa shalat itu berat. Inilah yang dimaksud oleh Allah dalam firmannya ;
وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Sesungguhnya shalat itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang Khusyu’ (QS 2: 45).
Jika ayat ini dibaca dengan teliti, akan kita dapati bahwa ia memiliki “pemahaman terbalik” (mafhum mukhalafah) bahwa shalat hanya memiliki nilai jika dilakukan dengan Khusyu’.
Khusyu’ bermakna kesadaran penuh akan kerendahan kehambaan (‘ubudiyah) diri kita sebagai manusia di hadapan keagungan Rububiyyah (Ketuhanan). Sikap Khusyu’ ini timbul sebagai konsekuensi kecintaan sekaligus ketakutan kita kepada Zat Yang Mahakasih dan Mahadahsyat ini.
Sebagai implikasinya, orang yang memiliki sikap seperti ini akan berupaya memusatkan seluruh pikiran, seluruh keberadaannya kepada Kehadiran-Nya dan membersihkannya dari apa saja yang selain Allah. Tidak bisa tidak ini berarti hadirnya hati. Tanpa kehadiran hati, shalat kehilangan nilainya. Rasulullah bersabda,
“Shalat yang diterima adalah sekadar
hadirnya hati.” .
Selanjutnya, Khusyu’ mengharuskan pemahaman yang benar tentang makna seluruh gerakan dan bacaan shalat serta menghunjamkannya ke dalam hati. Bahkan, selanjutnya baca disini 👇




