Sinar5news.com – Lombok Timur — Fakultas Teknik Universitas Hamzanwadi kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun tradisi akademik yang kuat melalui penyelenggaraan Diskusi Akademik & Bedah Buku yang digagas oleh HMPS Teknik Komputer dan melibatkan seluruh HMPS di lingkungan Fakultas Teknik. Kegiatan perdana ini menandai kolaborasi intelektual antara HMPS Teknik Komputer, HMPS Teknik Lingkungan, HMPS Sistem Informasi, dan HMPS Informatika dalam menghadirkan ruang literasi yang lebih inklusif, progresif, dan berbasis dialog bagi mahasiswa Fakultas Teknik.
Kegiatan ini menghadirkan pemantik diskusi utama Lalu Muhammad Rezy Helfiandi yang membedah pemikiran dan kontribusi sejumlah tokoh besar dunia terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.
Melalui pendekatan multidisipliner, diskusi ini mempertemukan perspektif sejarah, teknologi, filsafat, hingga kepemimpinan, sehingga mahasiswa teknik tidak hanya melihat dunia melalui perangkat teknis semata, tetapi melalui kerangka berpikir yang lebih luas dan komprehensif.
Forum ini mengulas empat tokoh yang dipandang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran dan teknologi modern: Nabi Muhammad, René Descartes, James Watt, dan Napoleon Bonaparte.
Masing-masing tokoh dijadikan pintu masuk untuk memahami bagaimana perubahan sosial, gagasan besar, dan inovasi teknis mampu membentuk arah peradaban manusia. Pendekatan ini memperkaya perspektif mahasiswa bahwa teknologi tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari rangkaian sejarah dan pergulatan intelektual yang panjang.
Ketua HMPS Teknik Komputer, Muhammad Azizi, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai forum membaca, tetapi sebagai ruang untuk membangun kesadaran intelektual mahasiswa teknik.
“Tujuan dari kegiatan diskusi dan bedah buku kali ini, selain meningkatkan minat mahasiswa Fakultas Teknik terkait pentingnya literasi, juga untuk menyambung silaturrahim antar-ormawa se-Fakultas Teknik. Harapan dari kegiatan seperti ini adalah agar mahasiswa Fakultas Teknik memiliki pemikiran yang kritis, tidak hanya jago di bidang teknik dan teknologi, tetapi juga kuat dalam literasi,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa penguatan literasi merupakan langkah strategis dalam membentuk mahasiswa teknik yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga mampu membaca fenomena sosial, memahami gagasan besar, dan berpikir secara reflektif.
Sementara itu, pemateri Lalu Muhammad Rezy Helfiandi menekankan bahwa forum literasi di Fakultas Teknik harus menjadi gerakan yang berkelanjutan, bukan sekadar agenda sesekali.
“Sebagai pemateri dalam kegiatan Literasi Bedah Buku di Fakultas Teknik, saya melihat bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi sebuah gerakan penting untuk membangkitkan kembali budaya membaca dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa. Literasi adalah fondasi kemajuan, dan melalui forum seperti ini kita belajar melihat dunia lebih luas, memahami gagasan besar, serta menumbuhkan kepekaan terhadap realitas.
Kolaborasi HMPS Informatika, HMPS Teknik Komputer, HMPS Teknik Lingkungan, dan HMPS Sistem Informasi menunjukkan bahwa literasi mampu mempersatukan mahasiswa lintas program studi. Saya berharap kegiatan seperti ini terus dilestarikan agar Fakultas Teknik tidak hanya dikenal lewat inovasi teknologinya, tetapi juga lewat kekuatan intelektual dan tradisi ilmiahnya,” pungkasnya.
Pernyataan ini kembali mempertegas bahwa keberadaan forum literasi menjadi elemen penting dalam membangun identitas akademik Fakultas Teknik sebagai lingkungan yang berorientasi pada pengembangan intelektual, bukan sekadar kompetensi teknis.
Dalam pernyataan kolektif, seluruh ketua HMPS menutup diskusi dengan menegaskan komitmen bersama:
“Ini merupakan langkah awal, dan akan terus berlanjut dalam menyediakan ruang literasi yang inklusif bagi seluruh mahasiswa Fakultas Teknik.”
Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat tumbuh budaya diskusi yang sehat di kalangan mahasiswa Fakultas Teknik. Forum ini menjadi langkah awal dalam meningkatkan serta memberdayakan pikiran-pikiran kritis, sehingga ke depannya tidak ada lagi mahasiswa yang kehilangan nalar berpikir yang seharusnya menjadi identitas intelektual mereka yakni nalar yang tajam, reflektif, dan mampu membaca persoalan secara komprehensif.



