Hari Kedua Raker Yayasan Pendidikan Acprilesma: Mengbedah Strategi ‘Survival Game’ dan ‘School Autopsy’ Menuju Transformasi Mutu Sekolah
JAKARTA, Sinar5News.com – Memasuki hari kedua Rapat Kerja (Raker) Yayasan Pendidikan Acprilesma yang digelar pada Selasa (7/7/2026), suasana diskusi semakin dinamis dan interaktif. Dimulai tepat pukul 08.00 WIB, raker kali ini menghadirkan pemateri praktisi pendidikan, Helmi Wahyudin, M.Pd., yang memfasilitasi para kepala sekolah dan guru dari masing-masing unit untuk berpikir kritis, berinteraksi, dan berkolaborasi merumuskan target mutu (Key Performance Indicators/KPI) yang terukur untuk tahun depan.
Mengawali sesi, Helmi Wahyudin menekankan pentingnya keberanian kepemimpinan dan kerja sama yang solid dengan orang tua dalam mendidik siswa. Ia juga menyelipkan pesan penting bagi para pendidik agar terus belajar dan berimprovisasi di dalam kelas.
“Guru jangan cuma mengajar, tapi juga harus terus belajar. Tingkatkan kreativitas melalui prinsip ATM—Amati, Tiru, dan Modifikasi—agar proses belajar di kelas selalu menyenangkan dan interaktif bagi anak-anak,” ujar Helmi memotivasi peserta.
Menghadapi Krisis Lewat Survival Game
Suasana ruang rapat menghangat saat memasuki simulasi pertama yang bertajuk Survival Game. Dalam tantangan ini, seluruh kelompok dihadapkan pada skenario kondisi keuangan sekolah yang sedang tidak baik-baik saja, di mana dana operasional yang tersisa hanya cukup untuk 6 bulan ke depan. Masing-masing kelompok diminta memeras otak untuk menentukan hanya 5 tindakan prioritas dari belasan opsi program yang tersedia.
Melalui diskusi yang tajam antar-kelompok (termasuk paparan dari Kelompok Padat Karya, Kelompok Angel, dan unit SMK), akhirnya tercapai mufakat mengenai 3 program utama yang menjadi prioritas mutlak dan tidak diperdebatkan lagi, yaitu:
-
Digital Marketing: Sebagai strategi efisien berbiaya hemat untuk menjangkau calon murid secara luas demi mengubah cara orang tua mendaftar.
-
Perbaikan SOP: Untuk meningkatkan efisiensi kerja, merapikan sistem pelayanan, dan mengurangi pemborosan anggaran.
-
Pelatihan Guru: Sebagai bentuk investasi jangka panjang. Sekolah tidak bisa naik kelas hanya karena gedung yang bagus, melainkan dari kualitas guru yang mumpuni di dalam kelas.
Visualisasi Kegagalan Lewat School Autopsy
Tidak kalah menarik, pada sesi berikutnya peserta diajak melakukan simulasi School Autopsy (Otopsi Sekolah). Menggunakan analogi kedokteran, setiap kelompok diminta menggambar visual tubuh manusia pada lembar kertas besar untuk membedah penyebab sekolah-sekolah yang gagal, bangkrut, atau tutup di masa lalu.
Metode visual ini mempermudah peserta mengingat aspek-aspek krusial organisasi melalui bagian tubuh yang diotopsi:
-
Kepala: Membedah mindset yang salah dari pengelola sekolah gagal.
-
Mata: Melihat apa yang gagal diprediksi atau dilewatkan oleh sekolah.
-
Telinga: Mengidentifikasi siapa saja (seperti kritik atau masukan orang tua) yang tidak didengarkan.
-
Mulut: Menyoroti apa yang salah dalam pola komunikasi sekolah.
-
Jantung: Menemukan values atau nilai-nilai luhur yang telah hilang.
-
Tangan & Kaki: Menganalisis apa yang tidak pernah dilakukan dan mengapa sekolah tidak bergerak adaptif.
-
Dompet: Menguliti akar masalah mengapa tata kelola keuangan bisa bermasalah.
Melalui metode School Autopsy ini, Yayasan Pendidikan Acprilesma berkomitmen penuh untuk mengambil hikmah dan momentum berharga agar tidak menjadi bagian dari sekolah yang gagal, melainkan terus bergerak melakukan transformasi mutu secara berkelanjutan.
Raker hari kedua ini berjalan dengan penuh semangat, diselingi dengan berbagai ice breaking kreatif dari masing-masing kelompok untuk menjaga fokus dan energi para peserta hingga akhir sesi. (S5N)




