Sebagai ulama yang lahir dalam kondisi perang, malanasyaikh adalah seorang tokoh yang senantiasa mendakwahkan jihad untuk melawan penjajah. Dalam catatan sejarah, di dalam karya-karya sastra beliau,maupun dalam pergaulan-pergaulan pergerakan beliau di dalam maupun di luar negeri, ruang dan waktu dari prinsip perjuangan beliau tidak luput daripada prinsip-prinsip perjuangan beliau yang isinya ialah ALHAROKAH, DAKWAH, dan pendidikan.
Malanasyaikh ialah ulama yang tentu sudah memahami bagaimana menggerakkan serta menyesuaikan peradaban dan zaman dalam perjuangan beliau mengisinya denga ruang tarbiah sebagai asasnya. Karena target visioner (mimi yang besar) apabila tidak berasaskan pada kekuatan ilmu pengetahuan maka akan mudah roboh dan ambruk dimakan waktu. Oleh sebab itu, mimpi akan bisa bertahan lama bahkkan terwujd apabila yang menjadi landaskannya ialah ilmu.
Maka yang dibangun pertama dalam menjalankan misi dakwahnya oleh maulana syaikh ialah Musholla al-Mujahidin Sebagai basis pendidikan agama, di tempat inilah beliau menumbuhkan dan memupuk semangat harokah (jihad) kepada murid-murid beliau yang sebelumnya tentu diajarkan dasar-dasar keagamaan yang kuat. Setelah melalui proses tarbiah , yaitu dengan berdirinya lembaga-lembaga pendidikan resmi madrasah NWDI &NBDI, serta madrasah-madrasah yang dibangun oleh murid-murid alumni beliau, dimulailah proses mengisi pendidikan dengan semangat perjuangan melawan penjajah.
Malanasyaikh dalam membangun pergerakan melalui beberapa proses, yaitu Ta’sisi (proses tarbiah dengan medirikan sumber-sumber tempat belajar), Takwini (mendirikn lembaga resmi madrasah dan organisasi), dan terakhir proses pembenihan nilai-nilai perjuangan kemanusiaan serta nilai-nilai cinta tanah air. Adapun nilai-nilai cinta tanah air diaktualisasikan dengan memperjuangkan nilai kesejahteraan, yaitu memangun panti-panti asuhan, dan mendorong berdirinya lembaga koperasi.
Hingga pada masa pasca kemerdekaan, sebagai bentuk penerapan nilai cinta tanah air dalam pemikiran Maulanasyaikh, organisai-organisasi keislaman tidak boleh saling membelakangi bahkan menentang program-program pemerintahan yang tentu tujuannya baik (yang dalam sejarahnya pada pemerintahan pak harto tentang kebijakan beliau memberi vaksin kepada anak-anak, banyak tokoh-tokoh agama yang menentang kebijakan tersebut karena masih mempermasalahkan kehalalan dari vaksin tersebut). Malanasyaikh berperan sebagai tokoh penyambung lidah tentang kebijakan pemerintah kepada masyarakat.
Itulah pola perjuangan yang dibentk maulana syaikh yang perlu diikuti dan diterapkan bagi murid-muridnya yaitu, Ta’sisi, Takwini, dan memperjuangka isu-isu besar yang menjadi perbincangan dunia. Isu-isu besar yang dimaksud ialah, isu globalisasi, krisis-krisis agama budaya dan perdamaian. karena hanya disanalah tempat bersepakatnya semua pikiran-pikiran besar, tempat terealisasinya prinsip politik adil, dan politik nilai dalam perjuangan Nahdlatu Wathan .
Semua itulah yang dimaksud Malanasyaikh tentang puncak perjuangan hidup beliau.
Penulis : Andi Risdianto (Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Cabang HIMMAH NWDI Jakarta dan Presiden Mahasiswa STAIMI DEPOK)




