banner post atas
 
HIKMAH, ILMU DAN AGAMA ; Mari Mengaji
 
Berpuasa, Sholat, Haji dan Ibadah lainnya adalah Urusan Agama.
 
Sinar5news.com- Alam semesta, Pencipta Alam Semesta, tata letak planet, bintang, matahari, bumi, bulan, peredarannya dan deskripsi serta penjelasan apapun tentang objek segala hal adalah urusan Ilmu.
 
Respon Manusia atas berbagai penomena baik penomena empirik dan non empirik, baik yang datang dari diri manusia maupun yang datang dari luar manusia, sikap, attitute, behaviour dan segala persepsi Manusia adalah urusan “Conciousness” atau urusan “Hikmah”.
= = = = = = = = = = = = = = =
Pedoman hidup Manusia di kehidupan Dunia ini adalah 3 Pelita yaitu ; 1). Hikmah (Wisdom atau Conciousness), 2). Ilmu (Ilmu Pengetahuan), dan 3. Agama. 
= = = = = = = = = = = = = = 
Ketika Manusia dan tokohnya (Ulama/Cendekiawan) beradu Argumen tentang Penomena Alam seperti tata letak planet, bintang gemintang dan peredarannya yang berimplikasi pada “Fatwa penetapan kalender Awal Ramadhan, maka kiblat atau Mahaguru kita adalah Ilmu” dengan Juri Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Pemilik Otoritas Ilmu adalah “Kaum Ilmuan”.
 
Ketika Manusia dan Tokohnya (Ulama dan Cendekiawan) beradu Argumen tentang Tata Cara Ibadah berimplikasi pada status “kehambaan kita”, maka kiblat atau Mahaguru kita adalah “Agama” dengan Juri Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Pemilik Otoritas Agama adalah “Kaum Agamawan”.
Ketika Manusia dan Tokohnya (Ulama dan Cendekiawan) beradu Argumen tentang Respon dan Tata Cara menyikapi perbedaan pandangan dalam berbagai penomena dan masalah kehidupan, yang berimplikasi pada “ketertiban sosial”, maka kiblat atau Mahaguru kita adalah “Hikmah” dengan Juri Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Pemilik Otoritas Hikmah adalah “Kaum Begawan” (Sastrawan dan Budayawan).
= = = = = = = = = = = = = =  
Sumber mempelajari Ilmu (baik ilmu ilmu eksak maupun ilmu-ilmu sosial), Hikmah dan Agama adalah keberadaan Alam Jagad Raya ini dan ekosistemnya yang telah berumur jutaan Tahun selain Peradaban Manusia yang baru berumur sekitar 20.000an tahun sejak Nabi Adam AS dengan 2 Juri utama yaitu ; 1. Al-Qur’anul Karim dan 2. Hadis-Hadis Nabi Muhammad SAW.
Allah berfirman di dalam Al-Qur’an Shurah Yunus Ayat: 5
 
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
 
Artinya: Dia-lah (Allah SWT) yang menjadikan matahari sebagai “Sinar Pemancar” dan bulan sebagai “Cahaya” kemudian menetapkan nya (matahari) sebagai “patokan tata Letak” (manzilah-manzilah) bagi peredarannya, sehingga dengan “tata letak itu (manazila) kalian mengetahui bilangan tahun dan bilangan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan kebenaran. Dia menjelaskan tanda-tanda penomena (kebesaran-Nya) kepada kaum yang berusaha mengetahui. (Q.S. Yunus: 5)
Ayat di atas adalah murni ayat tentang “ilmu pengetahuan” dan bukan ayat tentang Agama dan juga bukan Ayat tentang Hikmah. Namun menjadi Ayat yang penting sebagai referensi keputusan di bidang Agama yaitu keputusan hukum syariah (Fiqh) tentang awal memulai ibadah Sholat 5 waktu, awal atau periode ibadah Shaum, awal dan periode ibadah Haji dan penetapan waktu atas ibadah ibadah lainnya.
Adapun Ayat berikut adalah Ayat tentang Hikmah atau “perumpamaan” dan bukan Ayat tentang Ilmu, juga bukan Ayat tentang Agama. Perumpamaan adalah salah satu kajian dari Hikmah. Ada ratusan Ayat ayat di dalam Al-Qur’an yang menggunakan bahasa Sastra terutama pada ayat ayat tentang kisah dan ibrah bagi manusia.
 
فَالِقُ الْاِصْبَاحِۚ وَجَعَلَ الَّيْلَ سَكَنًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ
 
Artinya: Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-An’am Ayat 96)
Adapun 2 Ayat berikut adalah contoh Ayat-Ayat tentang Agama seperti Ayat 183-185 di Shurah Al-Baqoroh.
 
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelumnya agar kalian bertakwa.”
 
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
 
Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.
 
Apa bedanya Ilmu, Hikmah dan Agama,,,,,,,,,,?
1. Ilmu adalah segala pengetahuan yang tersusun secara sistematis, mengandung makna dan penjelasan atas suatu objek atau banyak objek kajian baik ilmu ilmu eksakta maupun ilmu ilmu sosial (Ilmu-ilmu Empirik) dan segala pengetahuan tentang penomena non-empirik (Ulumul Ghuyuub) seperti kehidupan di alam Jin, kehidupan di Alam Malaikat, kehidupan di Alam Barzah, kehidupan di Alam Sorga, kehidupan di alam Neraka dan kehidupan di Langit saat ini dan Ilmu-ilmu tentang Sifat Ketuhanan, sifat dan kehidupan di Alam Arsy Allah dan Sifat dan kehidupan di Alam Kursy Allah. Ilmu ilmu ini ada yang mandiri dan berdiri sendiri sebagai Ilmu dan ada yang berkaitan dengan “Hikmah” dan “Agama”. Ilmu-ilmu yang berdiri sendiri adalah ilmu ilmu yang berasal dari Khazanah Sisi Allah SWT dan tidak berkaitan dengan Jagad Raya kesemestaan ciptaannya, sementara Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ciptaan Allah SWT di Jagad Raya ini adalah ilmu ilmu yang ada dan berkaitan dengan makhluk. Dan ilmu ilmu ini ada sejak adanya Alam semesta ini diciptakan sejak miliaran tahun yang lalu, kemudian terus berkembang bersamaan dengan eksistensi alam semesta ini. Misalnya ilmu tentang perbintangan adalah ilmu yang mendeskripsikan dan menjelaskan tentang eksistensi planet-planet, bintang bintang,, tata letak, [peredarannya, dan sebagainya sehingga keberadaan ilmu ini karena ada objek kajiannya. Bila tidak ada bintang, maka tidak ada ilmu perbintangan. Begitu juga bila tidak ada Manusia, maka tidak ada ilmu ilmu sosial,,, karena ilmu-ilmu ini ada karena ada objek kajiannya. Karena ada Tumbuh tumbuhan, maka ada ilmu tumbuh tumbuhan. Dan Tumbuhan itu adalah “satu entitas” sedangkan “Ilmu” itu adalah entitas derivatifnya” atau “entitas lainnya”. Jadi Tumbuhan adalah bukan ilmu tumbuhan. Tumbuhan bisa mandiri sebagai dirinya sendiri, tetapi ilmu tumbuhannya adalah derivatif nya yang berkaitan dengan tumbuhan itu sendiri. 
 
2. Hikmah adalah Cahaya Kebijaksanaan yang memiliki tempat di dalam suatu “bejana” di sisi Allah SWT. Dari sumber bejana di sisi Allah SWT tersebut, lalu kemudian Allah berkenan menganugrahkan Cahaya ini berada di bejana lainnya yaitu “Kalbu Manusia”, maka bersinarlah kehidupan “Manusia itu seperti Matahari” menyinari Bumi. Ketika Cahaya ini berada di belahan yang lain,,,,, maka ada Bulan yang memantulkan Cahaya baru yang berasal dari Sinar Matahari. Matahari ini adalah “Hikmah” dan Bulan adalah “Cahayanya”. Kalau tidak ada “Hikmah”, maka tidak ada “ilmu”. Bila tidak ada “Sinar Matahari”, maka tidak ada “Cahaya Bulan”. Hikmah berdiri sendiri, tetapi Ilmu tidak bisa berdiri sendiri. Karena Ilmu berasal dari Hikmah. Maka ilmu-ilmu yang berasal dari Hikmah adalah “ilmu-ilmu hikmah”. Hikmah berasal dari sisi Allah SWT,,, dan Allah berkenan memberikan Cahaya hikmah ini kepada seluruh Hamba hambanya tanpa batas,,,, baik kepada hamba yang berupa makhluk jamad atau benda seperti kepada Gunung, batu atau bahkan debu. Juga Allah SWT berkenan memberikan hikmah ini kepada seluruh Manusia, dari hikmah yang berupa setetes air yang diberikan kepada manusia yang belum beriman dan Hikmah yang berupa Samudra yang diberikan kepada Para Nabi dan Rasulullah. Hikmah ini ada sejak Allah masih sendiri di “Almaa” dan saat itu belum ada satu makhluk apapun, bahkan belum ada “dimensi waktu” dan belum ada “Dimensi ruang”. Jadi Hikmah itu adalah “Cahaya” yang bukan “Makhluk” tetapi Cahaya yang berintegrasi dengan “Cahaya Allah SWT”. Jadi barang siapa yang Allah karuniakan padanya “Hikmah”, maka sesungguhnya Ia memperoleh pemberian yang besar. Hikmah adalah salah satu bekal Para Nabi dan Rasulullah selain: 1). Kitab, 2). Ilmu, dan 3). Agama.
 
3. Agama dalam bahasa Arab disebut “Dien” yang secara bahasa bermakna “Kewajiban”. Jadi Bila Agama itu adalah “Entitas Cahaya yang ditempatkan di dalam sebuah bejana”, maka “Agama itu adalah sebuah entitas Cahaya yang mandiri”. Bila isi bejana itu dijelaskan dan dideskripsikan charakteristiknya, susunannya, kumpulan bahasanya, sifat, bentuk, tujuan dan fungsi-fungsinya,,, maka keseluruhan penjelasan itu disebut “ilmu Agama”. Dan Ilmu Agama ini berkaitan dengan Agama tersebut tetapi secara entitas terpisah karena “Agama adalah bukan Ilmu Agama dan Ilmu Agama adalah bukan Agama”. Agama ada sejak Nabi Adam AS hijrah ke Bumi sekitar 20.000an tahun yang lalu. Jadi Hikmah mendahuluinya, kemudian Ilmu juga lebih dulu ada karena Hikmah dan Ilmu sudah ada miliaran tahun sebelumnya, sementara Agama baru ada sejak Nabi Adam AS hadir dan membangun kebudayaan dan peradaban Manusia di bumi. Jadi sebagai Pedoman Hidup Manusia, “Agama” ini adalah Pedoman Nomor 3 setelah Hikmah sebagai Pedoman No. 1 dan Ilmu sebagai Pedoman No. 2. Makanya sesuai urutan ini, Allah berfirman di dalam Al-Qur’an Shurah An-Nahl 125:
 
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
 
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan 1). Hikmah dan 2) Nasehat yang baik (Agama), dan 3) Berargumen lah dengan mereka dengan cara yang lebih baik (ilmu). Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
 
Jadi Kapan kita berpuasa,,,,,,,,? Ilmu menjawab Tanggal 2 April 2022
Ulama sebagai Kaum Agamawan harus mengikuti Kaum ilmuan, karena Manusia tidak sedang bertanya tentang “Bagaimana Cara Puasa atau ilmu ilmu tentang Puasa atau Ilmu ilmu Fiqh tetapi tentang “Kalender perhitungan Waktu berdasarkan perhitungan dan Tata Letak tata Surya dan Planet planet.
Bila Kaum Ilmuan dan Agamawan masih belum bersepakat,,, maka Kaum Hukama (Ahluz Dzikir) harus mengingatkan mereka:
1. Tanda – tanda Alam dan Penomena Alam (Makro Kosmos dan Mikro Kosmos) yang terjadi, diketahui oleh “Kaum Ahlul Yamin”. Ahlul Yamin dari Golongan Para Malaikah yg ditugaskan Allah SWT untuk membersihkan bumi dan Angkasa langit dunia yang busuk oleh perbuatan dosa Manusia selama 1 Tahun ini dibersihkan oleh Miliaran Malaikat yg bershof shof turun ke bumi malam ini. Para Aulia Allah juga semakin intensif mendoakan kebaikan bagi Kaum beriman dan keringanan bagi Manusia yang masih lalai.
2. Tanda tanda Alam dan Penomena Alam (Makro kosmos dan Mikro kosmos) yang terjadi, juga diketahui oleh “Kaum Ahlul Yasar”. Ahlul Yasar dari Golongan Syeitan dan bangsa jin bala Tentara iblis sedang dibelenggu oleh Malaikat malaikat Allah selama bulan Suci Ramadhan sejak malam ini,,, sehingga pengikut mereka dari Para Dukun dan Para Normal ikut terbelenggu karena malam ini tidak ada bisikan tentang informasi informasi ghaib yang beredar di angkasa langit dunia,,, sehingga mahluk mahluk Jin yg terbelenggu di Alam Makro Kosmos berlindung di Alam Mikro Kosmos di Alam pikiran dan alam bathin para Dukun dan Para Normal, sehingga mereka ikut terbawa ahwal “Misdirection”.
3. Manusia harus mampu mendeteksi frekuensi kehadiran para Malaikah di seluruh titik pijakan bumi,,, seperti kehadiran mereka di majlis majlis taklim dan Masjid masjid pada bulan-bulan yang lain selain Ramadhan, sebagaimana kemampuan kita mendeteksi ada prekwensi kehadiran kaum ahlul yasar (Syeitan dan bala tentaranya) di pusat pusat kegiatan maksiat di bulan bulan yang lain sebelumnya. Bila kita sebagai kaum beriman, tidak mampu mendeteksi prekuensi kehadiran Kaum Ahlul Yamin dan kaum Ahlul Yassar di dalam kehidupan kita sehari hari,,,,,,,,, maka Tujuan dan Fungsi Ibadah Sholat yang sejatinya sebagai “Tanha Anil Fahsyai wal Munkar” belum benar benar kita hayati dan rasakan.
 
= = = = = = = = = = = =  =
Selamat Beribadah Puasa Ramadhan 1 Ramadhan 1343 H pada Hari Sabtu 2 April, 2022
Cakrawala, ufuk Katulistiwa
 
Abu Rige
08119121180