WASPADALAH TERHADAP DAMPAK NEGATIF KECANDUAN BERMAIN GAME ONLINE

WASPADALAH TERHADAP DAMPAK NEGATIF KECANDUAN BERMAIN GAME ONLINE

Hari kemarin, Sabtu, 2 November 2019 sekitar pukul 07.30 WIB salah satu tv nasional yaitu tvOne pada acara Apa Kabar Indonesia Pagi, mengadakan dialog tentang efek negatif dari kecanduan bermain game online. Dalam acara tersebut dihadirkan seorang dokter yaitu dr. Aliyah Himawati (Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJD Dr Arif Zainudin Kota Surakrta). Hadir juga seorang psikolog anak Irma Gustiana, M.Psi, Psi dan seorang wanita remaja Sarah Olivia yang kebetulan hobi bermain game online.

Inti dari dialog tersebut menyampaikan sebenarnya bermain game online itu tidak apa-apa bila bisa mengontrol diri. Tetapi ketika seseorang tidak bisa mengontrol diri dan menjadi suatu kecanduan yang berlebihan “terutama anak kecil dan anak remaja” tentu ini tidak baik dan bisa membahayakan diri sendiri. Diantara dampak negatifnya adalah waktu terbuang sia-sia, tugas-tugas pokok seperti belajar dan beribadah terbengkalai pada akhirnya.

Ada orang kuat sekali bermain game online bisa sampai seharian atau semalaman. Ada juga yang bermain game online 24 jam atau berhari-hari lamanya non stop tanpa istirahat sedikitpun. Sehingga berakibat badannya menjadi sakit, lemah bahkan menyebabkan kematian. Na’udzubillah. Seperti yang terjadi di Taiwan pada tahun 2015, ada 2 orang pemuda karena terlalu lama bermain game sampai lupa dunia. Pemuda 38 tahun, diketahui bermain game di Internet Cafe di Taipei dan dilaporkan meninggal di hari ke 5 ia nge-game. Yang kedua, Hsieh, 32 tahun, ia juga bermain game selama 3 hari berturut-turut dan meninggal di warnet. Parahnya, kematiannya baru disadari beberapa hari kemudian, setelah petugas warnet membangunkannya tapi dia nggak merespon. Hsieh diketahui mengalami gagal jantung.

Menurut dr. Aliyah Himawati akhir-akhir ini banyak sekali menangani fasien yang kecanduan game online sehingga perlu adanya penangan secara khusus. Bagi anak yang berusia dibawah 10 tahun, orang tua masih bisa mengarahkan anak-anak mereka agar tidak kecanduan game online. Tapi bagi anak usia di atas 10 tahun cenderung sulit sekali dihentikan kecanduan bermain game, yang ada malah melawan dan membrontak. Ini terjadi karena karakter mereka sudah mulai terbentuk. Nah untuk tahap awal orang tua mesti memaksa untuk menghentikan kebiasaan bermain game online atau segera bawa ke rumah sakit untuk ditangani secara intensif oleh dokter ahlinya.

BACA JUGA  Kemenpora Konsolidasikan Relawan Pemuda Bantu Korban Banjir

Untuk diketahui menurut dr. Aliyah, jumlah pasien anak kecanduan game online akhir-akhir ini meningkat. Jika sebelumnya sepekan hanya satu pasien, kini hampir setiap hari ada satu hingga dua pasien yang datang. Pada tahun ajaran baru kemarin, katanya ada sekitar 35 anak dengan kecanduan game online yang menjalani pengobatan di RSJD Kota Surakarta. Mereka rata-rata kecanduan game online ekstrem.
Bahkan, dari jumlah itu dua di antaranya harus menjalani rawat inap di RSJD Kota Surakarta. Sedang sisanya menjalani rawat jalan.

BACA JUGA  Tunjukan Penghormatan NW Hadiri Undangan PUI

Sedang menurut psikolog Irma Gustiana menghimbau, “agar orang tua mesti melakukan pembinaan, arahan dan pendampingan secara intensif bila anak-anak mereka bermain game online. Orang tua mesti membangun komunikasi yang dekat, hangat dan penuh kelembutan agar mereka dapat membatasi diri dalam bermain game secara berlebihan.” Syukur-syukur kebiasaan bermain game online dapat ditinggalkan dengan menyuruh mereka mengikuti kegiatan-kegiatan positif, seperti olah raga, les bimbel, kursus-kursus, pengajian dan lain sebagainya. (red)

Sarah Olivia sendiri ketika ditanya oleh salah seorang host tvOne, apakah dengan bermain game online tugas pokok jadi terbengkalai? Sarah menjawab, “tidak sama sekali, karena saya berkomitmen untuk dapat membagi waktu dengan baik. Ada waktu belajar, ada waktu beribadah dan ada waktu bermain. Saya tunjukkan kepada orangtua, bahwa saya dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang anak. Sehingga walaupun saya hobi bermain game, prestasi saya tidak turun di sekolah, bahkan selalu mendapat juara”. Demikian Sarah mengakhiri argumentasinya.

Pada akhirnya semua kembali kepada pribadi masing-masing. Bagi orang yang menganggap bahwa bermain game hanya sebagai selingan untuk menghibur diri, in sya Allah tidak akan kecanduan, bahkan bisa ditinggalkan kalau memang dapat mengganggu kebutuhan dan tugas pokok sehari-hari. Tetapi bagi orang yang menganggap bermain game itu adalah suatu keharusan, bahkan ingin selalu mengejar sebanyak-banyaknya point demi mencapai level tingkat tinggi, maka inilah yang membuat jadi kecanduan yang menyebabkan terganggunya kejiwaan secara fatal. Bila jiwa terganggu bisa menyebabkan rusaknya akal pikiran yang berujung kepada lemahnya kecerdasan, bahkan berakibat kematian yang mengenaskan. Na’udzubillahi min dzalik. (Amr)

BACA JUGA  Peringatan HSN Penting Untuk di Lestarikan

Bekasi, 5 Rabiul Awwal 1441 H/3 November 2019 M

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA