“TIDAK BOLEH MENUNDA BERBUAT BAIK” Catatan Acara Bedah Buku Ke-3 Dakwah Nusantara TGB : Islam Wasathiyyah Vol. 1

banner post atas

Oleh: Dr. H. Muslihun Muslim (Sekretaris FKUB NTB dan Kaprodi Magister Ekonomi Syariah UIN Mataram)

Acara bedah buku ke-3 karya Febrian Putra yang menulis tentang perjalanan Dakwah Nusantara TGB telah dilaksanakan Jumat 11 Pebruari 2021 di Balai Kota Mataram. Berbeda dengan acara bedah buku yang pertama dilaksanakan di Ballroom IC dan di Kantor Pusat PB NU beberapa waktu lalu, bedah buku kali ini menghadirkan tokoh-tokoh lokal Mataram dan NTB. Testimoni dari tokoh muda Mataram disampaikan oleh Ust. H. Badruttamam Ahda, LC. Sementara dari kalangan senior, dari Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram Dr. H. Arsyad Gani, M.Pd. Acara yang diinisisasi oleh PD NW Kota Mataram yang dikomandani H. Irzani ini dibuka oleh Kadis Pendidikan Kota Mataram.

Sementara, acara bedah buku sendiri dilaksanakan oleh moderator Dr. Abdul Quddus, MA (Wadek I UIN Mataram), narasumber sebagai pembedah buku adalah dua akademisi gaek NTB, yakni Dr. Kadri M. Saleh, MA (Pakar Komunikasi Politik) dan Prof. Dr. Suprapto Mukti Wibowo, MA (Direktur Pascasarjana UIN Mataram). Peserta kegiatan ini adalah semua undangan yang terdiri dari berbagai unsur ormas keagamaan di Kota Mataram, baik yang Islam maupun non Islam, para akademisi, dan unsur Toga dan Toma. Dari unsur Kristen hadir pengurus Dekenat dan PGIW, begitu pula dari unsur Hindu hadir pengurus PHDI. Sementara dari Pengurus Matakin dan unsur Keturunan tidak bisa hadir karena sedang merayakan Imlek di hari yang sama.

Iklan

Selain diikuti secara luring, acara ini juga diikuti secara daring melalui sambungan link Zoom Meeting.
Dalam tulisan saya sebelumnya yang telah dimuat Lombok Post, saya menyimpulkan ada 7 hal penting yang dapat dijadikan sebagai ibroh (pelajaran) dari peluncuran dan bedah buku Dakwah Nusantara TGB ini, salah satunya adalah himbauan agar tidak boleh menunda melakukan kebaikan. Dalam tulisan kali saya sengaja memberikan judul “Tidak Boleh Menunda Berbuat Baik”, karena saat ini ada penyakit akut yang mulai merasuki umat manusia, yakni lebih mendahulukan HP Android dibandingkan berbuat baik dalam konteks yang luas, padahal menggunakan HP belum tentu positif, misalnya jika hanya untuk main-main saja atau main game. Mengkampanyekan gerakan tidak boleh menunda berbuat baik, saya kira adalah salah satu amal jariyah kita sebagai implementasi dari hadis khairunnas anfau’uhunm linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain). Begitu pula mendahulukan berbuat baik dari perbuatan lago (sia-sia) lainnya adalah pengejawantahan dari hadis nabi juga, yakni min husni islam al-mar’i tarkuhu ma laa ya’niih (di antara tanda kesempurnaan keislaman seseorang adalah meninggalkan pekerjaan yang tidak atau kurang bermanfaat).

Ada segudang ide dan gagasan baru yang muncul dalam diskusi dan bedah buku ini. Sebagaimana dalam tulisan sebelumnya yang mengangkat 7 pelajaran (ibroh), dalam tulisan ini saya akan mengungkapkan tujuh hal juga: Pertama, pentingnya penguatan literasi keagamaan bagi generasi muda. Anak-anak muda kita harus dibiasakan berjibaku dengan buku-buku keagamaan dan buku yang menggugah jiwa dan akhlak. Ust. Ahda dalam kesempatan itu juga mengingatkan bahwa ada pepatah Arab yang mengatakan “Al-adab ay al-akhlak qoblal ‘ilmi” (adab atau akhlak lebih utama dari pada kepintaran).

Di era industri 4.0 sekarang ini, peran buku dalam mencerdaskan bangsa sedikit demi sedikit mulai tergerus oleh kehadiran media online dan Android. Padahal bacaan melalui media online banyak pula yang kurang bisa dipertanggungjawabkan, baik dari sisi penulisnya, judulnya, linknya, maupun dari sumber refrensinya, lalu biasanya dikenal dengan bacaan sampah. Bacaan-bacaan dalam bentuk buku yang ditulis secara serius apalagi oleh penulis lokal masih tergolong langka. Kadis Pendidikan Kota Mataram sendiri mengakui bahwa sampai dengan hari masih sangat langka buku bacaan keagamaan yang ditulis oleh penulis lokal NTB. Maka kehadiran buku Dakwah Nusantara TGB Islam Wasathiyyah ini bisa mengisi kekosongan itu.

BACA JUGA  Dr.H.M.Hazbi : Tangani Covid-19 Di Lotim, Butuh Anggaran Rp.67 Milyar.

Kedua, pentingnya dokumentasi yang berkelanjutan tentang karya putra daerah NTB dalam konteks yang lebih luas. Dr. Arsyad Ghani menegaskan pentingnya mendokumentasikan karya monumental yang dihasilkan oleh putarea daerah NTB. Salah satu karya yang perlu dicetak dan disebarluaskan adalah disertasi karya TGB dalam menyelesaikan gelar Doktor nya di Universitas al-Azhar Kairo. Mengingat disertasi itu berbahasa Arab, maka perlu dicetak dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa dunia lainnya. Tujuannya, menurut Rektor UMMAT Mataram ini adalah agar dunia tidak hanya mengenal karya kitab TG Umar Kelayu, TGKH Zainuddin Abdul Majid dll, tetapi di era sekarang perlu disebarkan karya tuan guru atau akademisi lokal NTB ke seluruh penjuru dunia.

Ketiga, buku dakwah nusantara TGB Vol. 1 perlu segera dilanjutkan menjadi vol. 2, vol. 3 dan seterusnya, mengingat volume 1 lebih dominan memuat dakwah yang dilakukan TGB pada komunitas NU, sementara dakwah yang dilakukan dengan komunitas lain seperti Muhammadiyah dan lainnya masih belum dikupas secara luas. Demikian pula, aktivitas Dakwah yang dilakukan di area lokal NTB sejak TGB menjadi gubernur NTB perlu juga didokumentasikan dalam volume berikutnya.

Keempat, pengukuhan hubungan keislaman dan keindonesiaan harus terus disuarakan secara lantang oleh para tuan guru, seperti yang dilakukan oleh TGB selama ini. Prof. Suprapto mengingatkan bahwa salah satu kelebihan Dakwah TGB adalah substansinya yang menarasikan keislaman dan keindonesiaan. Beliau selalu mengatakan bahwa Islam hadir bukan di ruang hampa. Tetapi Islam hadir di sebuah ruang dan waktu. Ruang itu bernama Indonesia yang sarat dengan budaya dan lokalitas. Waktu nya adalah saat ini, yang penuh dengan tantangan. Islam hadir tentu bermetamorposis dengan budaya lokal. Meskipun tidak semua budaya diakulturasikan dan dipraktikkan dalam Islam. Ada filter dengan kata “muhakkamah”, yakni budaya yang memiliki kesesuaian dengan syariat, sehingga menjadi al-aadah muhakkamah (budaya bisa menjadi hukum dalam Islam dengan syarat memiliki kesesuaian). Oleh karena itu, TGB menyimpulkan bahwa Islam dan keindonesiaan itu berada pada satu tarikan napas.

Kelima, komunikasi publik yang baik sangat diperlukan dalam melakukan dakwah yang sejuk dan menyejukkan. Salah satu bentuk komunikasi publik yang baik dan efektif adalah mengkritik orang lain tanpa melukai perasaan orang yang dikritik. TGB pernah melakukan kritik kepada Presiden Jokowi pada puncak acara HPN (Hari Pers Nasional) di Kuta Lombok Tengah pada Selasa 9 Pebruari 2016. Saat itu, TGB mengkritik kebijakan impor jagung yang kemudian menurunkan harga jagung lokal di NTB. Dengan bahasa yang santun dan narasi bercerita, TGB menyampaikan bahwa seandainya pemerintah membeli jagung lokal NTB dengan harga lebih tinggi sedikit dari harga pasaran yang ada, maka betapa sejahteranya para petani jagung, yang kemudian diikuti oleh riuh rendah tepuk tangan para hadirin yang nota benenya adalah para pejabat kementerian dan pemerintah daerah se-Indonesia. Pada saat itu, TGB dengan lantang berpidato dengan menyebut angka-angka kuantitatif yang sangat banyak tanpa menggunakan teks. Begitu pula, dalam membangun komunikasi yang baik, diperlukan pendekatan inklusif dan menghindari pendekatan ekslusif. Dr. Kadri menegaskan bahwa dari sisi konten dan kapabilitas, dakwah TGB sudah tidak diragukan lagi. Meskipun nyaris tanpa jok atau lucu, tetapi nuansa “berisi” dan “bernas” tetap menjadi ciri khas dakwah TGB. Ceramah-ceramah TGB cendrung merangkul dan tidak pernah menyebutkan kelemahan orang lain. Substansinya selalu berada dalam posisi tengah (wasathiyyah), tidak fundamentalis dan tidak radikalis.

Keenam, perlu memperhatikan sisi kritis dalam melihat sebuah buku. Kritik membangun tentu sangat dibutuhkan dalam setiap buku yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Buku dakwah Nusantara TGB yang ditulis Febrian Putera ini selain memiliki nilai-nilai positif dan berisi tentang cerita positif untuk menjadi pembelajaran bagi generasi muda di masa depan, juga masih menyisakan kelemahan. Prof. Suprapto, misalnya menyebutkan kelemahan penulisan buku ini adalah pada masih seringnya terjadi pengulangan prase tertentu pada hampir semua bab yang ada. Tema atau substansi yang sama bisa saja ditulis berulang-ulang tetapi harus dengan narasi yang berbeda sehingga tidak menimbulkan kesan pengulangan dan membosankan. Kritik konstruktif seperti ini, tentu sangat lumrah dalam dunia tulis menulis. Sebagaimana diingatkan oleh moderator acara Dr. Quddus, bahwa “iza tamma syaiun bada’a naqshuhu” (jika telah selesai sesuatu maka muncullah kekurangannya). Di isi lain, Direktur Pascasarjana UIN Mataram ini menyampaikan kelebihan-kelebihan buku ini. Meminjam istilah seorang penulis, “buku bagaikan sepotong Pizza”. Maka buku Dakwah Nusantara TGB ini sangat renyah untuk dibaca dari sisi mana saja kita mulai, karena sifat buku ini adalah mendokumentasikan kegiatan pengajian di tempat yang berbeda-beda dengan segala suka dukanya. Langkah TGB di tahun 2018 ketika dakwah ini massif dilakukan secara nasional, bukanlah pekerjaan mudah. Posisi beliau yang masih menjabat Gubernur saat itu, menimbulkan cibiran oleh sebagian lawan politiknya, seolah dakwah ini hanya upaya pencitraan saja. Di sinilah pentingnya dakwah nusantara ini segera dilakukan, sebab kata, Kang Prapto (sapaan beliau), seandainya tidak dilakukan saat itu, maka sampai hari ini dakwah ini tidak bisa dilakukan seiring gempa Lombok dan Pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Tak lupa. Kang Prapto mengingatkan bahwa gelar TGB mirip dengan gelar Gus di Jawa yang biasanya disematkan kepada anak cucu para kyai. Tetapi hanya sedikit saja dari mereka yang tetap menggunakan gelar Gus sampai usia senja, seperti Gus Dur dan Gus Solah. Gelar TGB pada TGB M Zainul Majdi juga kelihatannya akan terus diucapkan masyarakat meskipun usia beliau sudah tidak terlalu bajang (sudah di atas 40 tahun), saat ini telah berusia 48 tahun.

BACA JUGA  Wagub NTB : TGKH.M.Zainuddin Abdul Majid Pahlawan Nasional Pendobrak Mindset Masyarakat Yang Tidak Kenal Pendidikan.

Ketujuh, pentingnya keikhlasan dalam berdakwah. Ust Ahda, pada acara tersebut menyebutkan salah satu isi buku Dakwah Nusantara TGB ini adalah ajakan untuk berdakwah secara ikhlas. Keikhlasan itu dapat dimaknai sebagai sikap yang sama ketika dipuji dan ketika dihina. Beliau mengutip ucapan KH Chusaini Ilyas (pimpinan Ponpes Salafiyah Al-Misbar Mojokerto), “Pujian karo cacian iku podo wae, podo-podo eleke (pujian dan cacian sama saja, sama-sama jeleknya)”. Sesungguhnya sahnya sebuah perbuatan itu sangat tergantung pada niatnya. Inilah yang mengharuskan kita untuk selalu menyandarkan kepada yang maha kuasa, segala aktifitas kita termasuk aktifitas dakwah kita. Ketika dakwah ini diniatkan lillahi ta’aala, maka segala kemudahan akan ditunjukkan oleh Tuhan, tetapi jika sebaliknya ada nawaitu yang lain, maka inilah yang akan menghambat kegiatan baik ini. Kita patut bersyukur bahwa ada sosok TGB yang telah mencontohkan kita bagaimana membangun komunikasi dan dialog dengan umat dan stakeholder di se-antero nusantara dengan aktivitas dakwahnya. Jika melihat dari proses dakwah dan antusias jamaah yang dikunjungi, maka tidak salah jika penulis menyimpulkan bahwa nawaitu dari dakwah nusantara ini telah diawali dengan niat tulus lillahi ta’ala. Apalagi, dalam waktu yang tidak terlalu lama, jejak dakwah tersebut dapat dengan mudah kita simak dan kita rasakan dengan membaca buku yang ditulis oleh Febrian Putra ini, yang nota benenya adalah mantan jurnalis Lombok Post hampir selama 10 tahun.
Semoga, acara bedah buku Dakwah Nusantara TGB ini dapat dilaksanakan berulang kali sebagaimana harapan para peserta di Balai Kota Mataram Jumat lalu. Mengapa demikian penting dilakukan berulangkali? Jawabannya adalah karena ada kemaslahatan yang sangat banyak di situ. Salah satunya seperti disampaikan Prof Suprapto adalah karena narasi TGB adalah mengkampanyekan Islam wasathiyyah dan hubungan yang senapas antara keislaman dan kebangsaan.