TGH. L. Pattimura Farhan, M.HI: Nilai Lebih Santri Asrama Dibanding Pelajar Biasa

banner post atas

Penulis: Abah Rosela Naelal Wafa

Hiziban Akbar menjadi acara rutin setiap bulan di Pondok Pesantren Selaparang Kediri Lombok Barat. Setiap pertengahan bulan mesti kita menemukan acara tersebut di sana.

Termasuk, pagi ini untaian doa yang dipintal Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Pendiri NWDI, NBDI dan NW) tersebut juga menggema di antmospir pesantren tua tersebut (15/12/2020).

Iklan

Syukurnya, setiap kali acara hiziban diselenggarakan oleh Yayasan selalu ramai dihadiri ratusan santri. Puluhan Dewan Guru dan Tuan Guru-Tuan Guru yang mengajar di bawah naungan Yayasan Islam Selaparang.

Tak terkecuali hari ini, acara akbar dihadiri TGH. Muh. Nurhayat, M.Pd.I. dan TGH. Abdul Hapiz Khaeruddin, Ustazah Hj. Nurlaela, S.Pd.I Kepala MTs. NW Selaparang Putri, dan banyak lagi lainnya.

Sisi lebih dari acara semacam ini bagi Pondok Pesantren Selaparang ialah bisa dijadikannya sebagai medium memberikan taujihat dan nasihat oleh para Kepala-kepala lembaga madrasah, tak terkecuali oleh Ketua Yayasan. Dan untuk kesempatan berkah kali ini disampaikan oleh TGH. Muh. Nurhayat, M.Pd.I.

Namun, sebelum tausiyah disampaikan oleh Kepala MA NW Selaparang tersebut, tausiyah terlebih dahulu disampaikan oleh Ketua Yayasan Islam Selaparang yaitu Raden TGH. L. Pattimura Farhan, M.HI. via telepon.

Ketua Yayasan yang juga menjabat Wakil Ketua BAZNAS NTB tersebut tidak berkesempatan hadir sebagaimana biasanya, sebab beliau sedang melayat ke makam gurunya, yakni Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar Pimpinan Yayasan ash-Shiddiqiyah Jakarta, yang wafat beberapa hari lalu.

Adapun poin penting yang disampaikan Ulama Muda dari Lombok Barat ini ialah agar santri bersyukur dengan kelebihan yang dimilikinya, bila dibanding dengan pelajar lain yang tak mondok alias bolak balik ke rumahnya.

BACA JUGA  Dansatgas Pamtas Yonif 642/Kapuas Resmikan Bedah Rumah Tidak Layak Huni

“Nilai lebih kalian yang ada di Pesantren dan tinggal di asrama di banding yang lain, adalah selain kalian memperoleh ‘taklim’ dan ‘tadris’, kalian juga mendapatkan ‘takdib’ dan ‘tarbiyah’. Sebuah keuntungan yang luar biasa.” Katanya mengingatkan santri.

Memang benar adanya. Bahwa pelajar yang bolak balik ke rumahnya, mereka hanya memperoleh taklim atau tadris (hanya mendapati transformasi ilmu semata). Boleh jadi, masuk lewat telinga kanan, keluar melalui telinga sebelahnya. Belum lagi, dipengaruhi oleh pergaulan tanpa batas dengan sebayanya.

Sementara santri, –lanjut beliau– selain menerima transformasi ilmu, santri asrama juga diberikan ‘takdib’ (pembelajaran adab/sopan santun/etika) dan ‘tarbiyah’ (didikan mental dan spiritual), dengan dua modal ini santri asrama lebih siap menerima dan menghadapi perkembangan zaman.

“Takdib dan tarbiyah inilah yang tidak didapatkan oleh mereka yang tidak tinggal di asrama dibawah asuhan pembinanya”. Tegas Raden Tuan.

Atas dasar itulah, maka bagi Raden Tuan Pattimura, momen hiziban yang bertepatan dengan momen menunggu pembagian raport, mestinya santri tidak begitu silau dengan nilai yang tertera di raport, tapi mestinya merenungi, “Apakah adab telah bersemai pada dirinya?”. Katanya!

Jadi, pagi tadi Tuan Guru menekankan agar produk santri yang diharapkan itu adalah santri yang terpotret dari etika kesehariannya, bukan hanya santri yang tergambar di atas kertas raport.

Pemikiran, kata, ide dan kehendak yang beliau sampaikan sejalan dengan sebuah ungkapan Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid yakni “Ijazah termahal ialah ijazah masyarakat”, di mana masyarakat memiliki barometer sendiri dalam menilai. Barometernya ialah adab, etika alias akhlak.

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 15 Desember 2020 M.