Tanya jawab seputar Ramadhan bagian 3

banner post atas

Soal : Manakah sesuatu yang bisa membatalkan puasa ?
Jawab : Perkara yang dapat membatalkan puasa adalah :
1. Masuknya sesuatu dari lubang yang ada di badan dengan jalan sengaja. Misalnya lubang kemaluan depan dan belakang, lubang mulut, lubang telinga dan lubang hidung.
2. Muntah secara sengaja.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ

Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Isa bin Yunus memberitahukan kepada kami dari Hisyam bin Hasan, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Barang siapa muntah karena terpaksa (tidak disengaja), maka tidak wajib mengqadha (puasa). Tetapi barangsiapa muntah dengan sengaja, maka dia harus mengqadha. ” Shahih: Ibnu Majah (1676)
3. Keluar mani dengan sebab bersentuhan, baik itu dengan cara yang dibolehkan seperti mengeluarkan mani dengan tangan istri, atau dengan cara yang tidak dibolehkan seperti mengeluarkan mani dengan tangan sendiri.
4. Haid dan nifas
5. Gila
7. Murtad (keluar dari agama Islam)

Iklan

Soal : Benarkah minuman atau makan orang yang makan atau minum dalam keadaan lupa bulan puasa pemberian langsung dari Allah ?
Jawab : Makan atau minum dalam keadaan lupa pada bulan puasa tidak membatalkan puasa, karena pada hakikatnya ketika itu Allah yang sedang memberinya makan dan minum.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَكَلْتُ وَشَرِبْتُ نَاسِيًا وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ اللَّهُ أَطْعَمَكَ وَسَقَاكَ

Dari Abu Hurairah, ia berkata: ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah, lalu berkata, “Wahai Rasul, aku telah makan dan minum karena lupa saat sedang berpuasa.” Beliau bersabda, “(Itu berarti) Allah telah memberi makan dan minum kepadamu.” (Muttafaq ‘Alaih)

BACA JUGA  HIDUPLAH UNTUK YANG MAHA HIDUP MENGHDAPI TAHUN BARU ISLAM 1441 HIJRIYAH. Oleh : Abu Akrom

Dalam hadits yang lain disebutkan,

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ حَجَّاجِ بْنِ أَرْطَاةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ نَاسِيًا فَلَا يُفْطِرْ فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ رَزَقَهُ اللَّهُ

Abu Sa’id Asyaj menceritakan kepada kami, Abu Khalid Al Ahmar memberitahukan kepada kami dari Hajjaj bin Arthah, dari Qatadah, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa makan dan minum karena lupa makajanganlah berbuka (membatalkan puasanya), karena sesungguhnya itu adalah rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya’. ” Shahih: Ibnu Majah (1673) dan Muttafaq ‘alaih

Soal : Benarkah niat puasa Ramadhan harus dilakukan pada malam hari ?
Jawab : Dalam mazdhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan harus dilakukan pada malam hari. Pemasangan niat puasa boleh dilakukan mulai dari masuk waktu maghrib sampai sebelum waktu subuh.

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Ishaq bin Manshur menceritakan kepada kami, Ibnu Abu Maryam memberitahukan kepada kami, Yahya bin Ayub memberitahukan kepada kami dari Abdullah Abu Bakar, dari Ibnu Syihab, dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, dari Hafshah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa tidak niat berpuasa sebelum Fajar, maka tidak ada puasa baginya (tidak sah). ” Shahih: Ibnu Majah (1700)

Soal : Apakah hikmah dari pelaksanaan puasa Ramadhan ?
Jawab : Adapun diantara hikmahnya adalah sebagai sebuah wasilah untuk meningkatkan iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT,
Mendidik manusia dalam mengendalikan nafsu supaya menjadi setabil dan sabar dalam menjalani kehidupan,
Menyempitkan laju pergerakan godaan syaithan, menumbuhkan dan mengasah sensitivitas terhadap keadaan orang yang miskin, dan puasa bisa mendatangkan kesehatan bagi badan.

BACA JUGA  Tanya jawab seputar Ramadhan bagian 11

صُومُوا تَصِحُّوا
Puasalah niscaya kamu sehat.

Meskipun hadits diatas dianggap do’if, namun masih bisa dipakai dalam hal fadhoilull amal. Dan juga secara kesehatan, bahwa lambung kita dapat diibaratkan seperti sebuah mesin yang bekerja sehari semalam memproses makanan, dan membutuhkan istirahat supaya menjadi tetap setabil.

Soal : Bagaimana hukum puasa Ramadhan orang yang junub.
Jawab : Yang menyebabkan puasa batal adalah junub sebab bergaul dengan istri disiang hari atau setelah fajar (subuh). Adapun junub karena bergaul dengan istri sebelum fajar (subuh), maka hal itu tidak membatalkan puasa.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ قَالَ أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ وَأُمُّ سَلَمَةَ زَوْجَا النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ فَيَصُومُ

Qutaibah menceritakan kepada kami, Al-Laits memberitahukan kepada kami dari Ibnu Syihab, dari Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam, ia berkata, “Aisyah dan Ummu Salamah (istri Nabi SAW) berkata (kepadaku), “Ketika memasuki waktu Fajar Nabi SAW dalam keadaan junub karena (bergaul dengan) istrinya, maka beliau mandi lalu berpuasa. ” Shahih: Ibnu Majah (1703)

Fath.