Tanya jawab seputar Ramadhan bagian 15

banner post atas

Soal : Bagaimana hukum mencium istri bagi orang yang berpuasa ?
Jawab : Mencium istri bagi orang yang berpuasa tidak menyebabkan batalnya puasa. Akan tetapi mencium itu tergolong perbuatan yang dilarang bagi orang yang muncul syahwatnya ketika ciuman.

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ وَقُتَيْبَةُ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُ فِي شَهْرِ الصَّوْمِ

Hannad dan Qutaibah menceritakan kepada kami, mereka berkata, “Abu Al Ahwash memberitahukan kepada kami dari Ziyad bin ilaqah, dari Amr bin Maimun, dari Aisyah: Nabi SAW mencium(nya) pada bulan Ramadhan. Shahih: Ibnu Majah (1683), Shahih Muslim, dan Shahih Bukhari (semisalnya

Iklan

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي مَيْسَرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُنِي وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Ibnu Abu Umar menceritakan kepada kami, Waki’ memberitahukan kepada kami, Isra’ il memberitahukan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Abu Maisarah, dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah SAW sering bermesraan denganku sedangkan beliau berpuasa. Beliau adalah orang yang paling bisa menahan nafsunya di antara kalian.” Shahih: Ibnu Majah (1684) dan Muttafaq ‘alaih

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ وَالْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Hannad menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah memberitahukan kepada kami dari Al A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Al Aswad, dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah SAW berciuman dan bermesraan sedangkan beliau berpuasa. Beliau adalah orang yang paling bisa menahan nafsunya di antara kamu sekalian.” Shahih: IbnuMajah (1678) dan Muttafaq ‘alaih

BACA JUGA  Pancasila Menjadi Penggerak dan Pemersatu Bangsa dalam Menghadapi Tantangan dan Ujian

Soal : Bagaimana hukum menyentuh perempuan yang boleh dinikahi tanpa lapis bagi orang yang berpuasa ?
Jawab : Apabila persentuhan tersebut tanpa lapis sehinga keluar mani, maka yang demikian itu membatalkan puasa, karena persentuhan tersebut termasuk persentuhan yang membatalkan wudhu’.

Soal : Bagaimana hukum puasa orang yang menyentuhan/atau merangkul istri kemudian keluar mani ?

Jawab : Kalau dalam persentuhannya itu menggunakan lapis, maka puasanya tidak batal. Yang demikian itu sama dengan hukum mimpi basah di siang hari bulan Ramadhan atau membayangkan sesuatu yang menyebabkan keluar mani. Ini tidak membatalkan puasa karena tidak adanya persentuhan kulit secara langsung.

Soal : Bagaimana hukum puasa orang yang memeluk istrinya dengan lapis, tapi dalam perbuatannya itu dia tahu setiap memeluk pasti keluar maninya ?.
Jawab : Jika secara adat kebiasaan apabila dia merangkul istrinya pasti maninya keluar, maka puasanya batal jika hal itu dilakukan. Demikian penjelasan dari kitab Ianatut Tholibin juz 2 hal.256.

Soal : Bagaimana hukum puasa orang yang keluar maninya karena menyentuh rambut perempuan yang bukan mahramnya, atau menyentuh perempuan mahramnya (yang tidak boleh dinikahi) ?
Jawab : Puasanya tidak batal, karena persentuhan tersebut termasuk persentuhan yang tidak membatalkan wudhu’. Demikian penjelasan dalam kitab Fathul Mu’in bab puasa.