Tahukah Anda Apa Perbedaan Na’jis dan Kotor ?

Tahukah Anda Apa Perbedaan Na’jis dan Kotor ?

Banyak dari kita yang belum bisa membedakan antara na’jis dan kotor. Ketika pakaian kotor karena belum dicuci, terkena lumpur atau terkena bekas makanan terkadang menjadi alasan menunda shalat, karena beranggapan pakaian tersebut kotor tidak boleh dibawa shalat. Pemahaman seperti ini masih banyak penulis temukan pada anak usia sekolah SMP dan SMA. Gara-gara baju terkena bumbu makanan, dijadikan sebagai alasan untuk menunda pelaksanaan shalat.

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan “kotor belum tentu na’jis, sedangkan na’jis sudah tentu kotor.” Karena setiap yang na’jis sudah pasti mengandung kotoran, misalnya tinja (tahi) ayam, disamping na’jis sudah pasti kotor, karena berasal dari lambung. Berbeda dengan kotor, belum tentu mengandung na’jis, karena setiap yang kotor bisa berasal dari sesuatu yang suci, dan terkadang juga berasal dari sesuatu yang na’jis.

Sesuatu yang na’jis sudah termasuk dalam katagori kotor. Hal ini dijelaskan Allah dalam alquran

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor.” (QS. Al An’am: 145).

Dalam ayat ini Allah menyebutkan na’jis seperti bangkai, darah yang mengalir dan daging babi dalam katagori kotor (rijsun).

Lalu apakah na’jis itu? Merujuk kepada KBBI Najis adalah kotor yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan kalau dilirik dari sisi semantik kebahasaan, najis bermakna al qadzarah ( القذارة ) yang artinya kotoran. Sedangkan definisi menurut istilah agama (syar’i), dalam sudut pandang Asy Syafi’iyah adalah Sesuatu yang dianggap kotor dan mencegah sahnya salat tanpa ada hal yang meringankan.

Berpijak dari definisi diatas, na’jis merupakan salah satu bagian dari kotoran yang menjadi penghalang sahnya shalat. Dalam shalat, badan, pakaian dan tempat harus suci dari na’jis.

Untuk lebih memperjelas pamahaman tentang na’jis, ada baiknya dijelaskan mengenai bagian-bagian najis.

Secara garis besar na’jis terbagi kepada tiga bagian.

Pertam; Najis Mukhaffafah (najis ringan) adalah najis yang cara membersihkannya cukup dengan mempercikkan air di bagian yang terkena najis. Contohnya: air kencing bayi laki-laki yang masih menyusu (Kira-kira umurnya kurang dari dua tahun) dan belum memakan makanan lain.

Kedua; Najis Mutawassithah (najis pertengahan) adalah najis yang cara membersihkan nya dengan menghilangkan warna, bau, dan rasanya. Bisa dengan disiram air sampai bersih atau digosok. Contoh: kotoran manusia dewasa, darah haid, minuman keras, segala bangkai selain ikan dan belalang. Jenis na’jis ini paling banyak ditemukan.

Ketiga; Najis Mughallazhah (najis berat) adalah najis yang cara membersihkannya dengan dicuci sebanyak tujuh kali salah satunya dengan tanah. Contoh: menyentuh anjing atau babi dalam keadaan basah, atau terkena liur salah satu dari keduanya.

Setelah memahami tentang na’jis, ada baiknya kita berlanjut kepada pemahaman tentang apakah kotor itu ?.

Dalam bahasa arab, kotor disebut kodzar ( قذر ), dalam alquran (QS. Al An’am: 145) kotor diistilahkan dengan rijsun ( رجس ). Dalam KBBI kotor dimaknai dengan tidak bersih; kena noda. Atau dalam istilah sederhana keadaan yang tidak bersih. Disini kotor adalah antonim dari bersih. Baju yang terkena lumpur, terkena bekas makanan, atau sampah yang berserakan masuk dalam istilah kotor.

Dari sini dapat dikatakan, bahwa kotor itu bisa berasal dari benda yang suci dan bisa juga dari benda yang na’jis. Ketika kotor muncul dari barang suci, maka kesucian nya tetap utuh, artinya benda/pakaian tersebut masih bisa dipakai shalat. Sebaliknya jika kotor itu timbul dari barang na’jis, maka keadaan benda itu tetap dalam kondisinya na’jis, tidak boleh dibawa shalat.

Kotor yang berasal dari benda na’jis contohnya seperti pakaian yang terkena darah, bangkai binatang dan kotoran (tahi). Sedangkan kotor yang berasal dari benda suci contohnya: baju yang terkena bekas makanan, lumpur suci yang mengenai pakaian.

Intinya segala yang na’jis sudah pasti kotor, dan sesuatu yang kotor belum tentu na’jis. (fathi)

Moga Manfaat

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA