Studi Pergolakan Ideologi Dan Gerakan Islam Nasional

banner post atas

Oleh: Kanda Muhammad Said

Ideologi adalah suatu keyakinan yang membentuk cara pandang seseorang dalam rangka mengambil keputusan dan memenuhi tujuan atau keinginannya. Dalam perspektif Gramsci, ideologi merupak sebuah gagasan (ide) yang diaplikasikan dalam “medan” praksis, sehingga membentuk individu sebagao subjek dan agen sosial dalam masyarakat. Selain itu, ideologi juga juga muncul dari berbagai arah, mulai dari agen sosial, activism sosial, produksi pengetahuan, kultural dan ekonomi politik.
Adanya banyak ideologi tentu sangat berdampak bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, ia menimbulkan sebuah perbedaan dan akhirnya memunculkan perdebatan panjang sampai hari ini. Masing-masing ideologi ingin menunjukkan eksistensi dirinya dan ingin memberi tahukan kepada orang lain bahwa yang diyakininya adalah sudah yang paling benar.
Islam dengan tarekatnya, bermula dari masa kolonialisme yang mengakibatkan terjadinya perlawanan dalam dunia islam. Seperti perlawanan tarekat Sanusiyyah di masa pereang dunia kedua, perlawanan Syekh Mahmud Birzinji pemimpin thariqah qadariyyah di Kurdistan, pemberontakan petani banten (1888) di Indonesia yang dipelopori oleh murid-muris Syaikh Abdul Karim, dan pemberontakan Praya (congah praya) yang dipelopori Mamiq Bangkol dan kawan-kawan.
Nasionalisme dan islam adalah perkawinan yang tidak sepenuhnya harmonis? Sejak awal kemerdikaan perdebatan antara dua kutub terus saja terjadi, antara islam atau nasionalisme yang akhirnya melahirkan Pancasila, dengan munculnya pemberontakan Di/TII di berbagai daerah yang dipimpin Karto Soewiryo, Kahar Muzakkar, Ibnu Hajjar dll, kemudian perlawanan PRRI Permesta dan perlawanan Soekarno dan Daud Bereuh hingga munculnya GAM. Selanjutnya, ditambah lagi kontestasi kelompok nasionalis, islam dan kiri seperti Soekarno mewakili kelompok nasionalis, Masyumi kelompok islamis, dan dari kiri PKI versus Masyumi tentang imaginasi keindonesiaan, orde baru dan posisi civil Islam Di Indonesia.
Kontestasi politik dan perebutan otoritas meahirkan sentimen dan jarak antar ormas di Lombok tiap moment politik. Diamana organisasi berbasis local dan Nasional (Jawa) dalam peta sosial [politik masa depan. Namun, hal yang perlu dilakukan hari ini dengan banyaknya suguhan ideologi dan perdebatan panjang ini tidak perlu menghujat dan mengkritik ideologi orang lain, yang perlu kita lakukan adalah memposting sesuatu yang bermanfaat dari ideologi yang kita yakini.

Iklan
BACA JUGA  Hikmah pagi :Kisah hikmah Makhluk paling hina

#wapa2himmahnwcabanglomboktimur
#profesionalmoralis
#maju