Selamat Jalan Guru Besar Kita Prof. Dr. H. Agustitin Setyobudi, MM, Ph.D (Pembina Media SinarLIMA)

banner post atas

انا لله وانا اليه راجعون

Hari ini Selasa, 4 Agustus 2020 M/14 Dzulhijjah 1441 H pukul 12.30 WIB telah berpulang ke Rahmatullah guru besar kita yang tercinta Prof. Dr. H. Agustitin Seryobudi, MM, Ph.D bin Murdani Wongso Wijoya dalam usia 60 tahun di Rumah Sakit Jantung Matraman, Jakarta Timur. Prof. Agustitin Setyobudi Lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 8 Agustus 1960 dengan meninggalkan seorang istri, 4 orang anak, 3 menantu dan 5 cucu.

Meninggalnya Prof. Agustitin boleh dikatakan sangat cepat dan tidak terduga. Keluarga, kerabat, teman dan orang-orang disekitar sangat kaget dan terkejut mendengar berita duka ini. Banyak diantara mereka yang tidak menyangka dan setengah tidak percaya. Pasalnya beberapa hari yang lalu beliau masih terlihat sehat dan aktif menjalani tugas dan rutinitas seperti biasa.

Iklan

Memang dua-tiga hari ini Prof. terlihat agak lemah kondisi fisiknya, maklum karena padatnya rutinitas yang beliau jalani. Maka pada hari Senin, 3 Agustus 2020 sekitar pukul 20.00 WIB pihak keluarga segera membawanya ke rumah sakit Jantung Matraman, Jakarta Timur, setelah merasakan jantungnya mengalami sakit. Ternyata beliau dirawat di Rumah Sakit tidak sampai dua hari. Hari Selasa, 4 Agustus 2020 pukul 12.30 WIB beliau dinyatakan meninggal dunia dalam usia 60 tahun kurang 4 hari.

Menurut informasi dari salah seorang anak Prof. Agustitin, Prima Sagita Setyowati, SE, M.Si, ternyata Prof. itu meninggal dengan cara yang sangat mudah, indah dan berkesan. Dikatakan demikian karena menjelang wafatnya beberapakali mampu mengucapkan dua kalimat syahadat dengan fasih dan lancar setelah dituntun oleh istri dan anak-anak beliau. Penulis sendiri mendengar informasi ini sangat terharu dan hampir tidak bisa berkata apa-apa, terbayang betapa wafatnya beliau sangat indah dan menyenangkan, dimana  dari lisannya yang mulia itu Allah perkenankan mampu mengucapkan dua kalimat syahadat. Inilah diantara yang menjadi harapan dan cita-cita tertinggi setiap orang yang beriman dan menjadi pengikut umat Rasulullah SAW, dimana dalam mengakhiri perjalanan hidupnya dapat dengan mudah melafazkan dua kalimat syahadat.

Semoga ini adalah pertanda beliau wafat dalam keadaan husnul khatimah (kematian yang sangat indah dan membahagikan). In sya Allah hal ini sangat layak beliau dapatkan, karena dalam kesehariannya beliau senantiasa mengabdikan dirinya untuk agama, bangsa dan Negara. Untuk agama beliau tidak hentin-hentinya membina umat baik melalui ceramah, khutbah, tulisan dan buku-buku yang bernuansa keislaman yang sangat berkualitas. Bahkan di kediamannya yang cukup luas beliau membangun Pondok Pesantren, masjid dan asrama santri. Yang unik dari pesantrennya beliau namakan dengan namanya sendiri yaitu Pondok Pesantren Entrepreneurship Profesor Doktor Haji Agustitin Setyobudi Magister Manajemen.

Untuk bangsa dan Negara beliau memiliki andil yang sangat besar dalam membantu pemerintah mendidik dan mencerdaskan anak bangsa melalui lembaga pendidikan yang didirikannya mulai dari TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Hampir seluruh hidupnya beliau curahkan secara total dan fokus dalam dunia pendidikan yang berawal mula menjadi guru SD, kemudian berlanjut menjadi guru SMP, SMA dan menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi. Bahkan dalam karirnya pernah menjabat sebagai kepala sekolah dan Ketua Umum PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).

BACA JUGA  Bupati Sukiman : Sekda Harus Mampun Menjadi Harmonisasi, Dinamisasi dan Fasilitasi Antara Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.

Dalam bidang ekonomi dan koperasi sudah tidak diragukan lagi kemampuannya, karena secara gelar akademik itu merupakan keahliannya. Bahkan gelar guru besar yang disandangnya memang berkaitan dengan keahliannya di bdiang ekonomi dan koperasi. Banyak buku yang dikarangnya yang berkaitan dengan ekonomi dan koperasi dan buku-buku beliau menjadi rujukan bagi para pelaku ekonom di Indonesia. Karena keahliannya dalam bidang ekonomi dan koperasi, beliau dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum KKGJ (Koperasi Keluarga Guru Jakarta), bahkan sampai akhir hayatnya beliau dipercaya menjadi Ketua Umum Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (IKPRI).

Dalam bermasyarakat Prof. Agustitin dikenal sangat aktif, dermawan, peduli dan komunikatif kepada semua warga mulai dari anak kecil sampai orang tua, baik kepada yang muslim maupun non muslim. Selama 25 tahun beliau menunjukkan pengabdiannya di tengah masyarakat dan selama itu pula dipercaya menjadi ketua RW 04 di lingkungan tempat tinggalnya yaitu Kp. Rawajaya, Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Dalam bidang budaya, Prof. Agustitin setiap dua kali dalam setahun menggelar pertunjukan wayang kulit/golek semalam suntuk di kampus perguruan yang didirikannya yaitu kampus Pendidikan Acprilesma sekolah Laboratorium Jakarta. Bahkan pergelaran wayang ini tidak hanya di gelar di Jakarta, tapi di daerah lain seperti Purwakarta dan di Trenggalek, Jawa Timur tempat kampung kelahirannya. Pertunjukan wayang ini beliau lakukan sebagai sarana dakwah untuk mengajak umat agar makin mengenal ajaran Islam yang sangat luhur untuk mencapai kebahagiaan abadi dari dunia sampai akhirat nanti. Menurut salah seorang menantunya Ust. H. Erfan Maulana, Lc, M.Si, semua ini beliau lakukan mengikuti contoh yang pernah diteladankan oleh Sunan Kalijaga dalam dakwahnya.

Dalam bidang seni, beliau banyak menciptakan lagu dan prosa yang sangat menggetarkan jiwa penuh dengan motivasi dan inspirasi yang sangat berharga bagi siapapun yang mau memaknai kedalaman isinya.

Karena demikian besar kiprahnya dalam bidang pendidikan, ekonomi, seni dan budaya, akhirnya beliau mendapat banyak penghargaan baik dari instansi pemerintah, LSM maupun lainnya. Di sekretariat Yayasan Pendidikan Acprilesma tempat beliau berkantor, terpajang dengan rapi berbagai penghargaan baik lokal maupun nasional. Juga terpajang foto-foto yang sangat berharga bersama pejabat-pejabat Negara mulai dari menteri sampai Presiden. Semua ini menjadi kenangan indah dan contoh teladan yang sangat baik bagi keluarga, sahabat dan orang-orang yang ada disekitarnya.

Dan yang tidak kalah pentingnya ternyata beliau adalah pengagum dan pencinta ulama besar seorang waliyullah yaitu pendiri organisasi NW (Nahdlatul Wathan), Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Selama hayatnya beliau sering ke Lombok disamping menjadi dosen luar biasa di perguruan NW, juga menyempatkan diri untuk ziarah ke makam Maulana Syaikh yang sangat masyhur itu.

BACA JUGA  Gubernur DKI Jakarta Anies Positif Terpapar Covid-19

Di Jakarta Prof. Agustitin dipercaya menjabat sebagai Dewan Pembina dan Penasehat Pengurus Wilayah NW DKI Jakarta dan Media SinarLIMA (Sinar5News.com). Perlu diketahui, menurut Pemred SinarLIMA, Rohimin, S.Pd, di media SinarLIMA ini Prof. Agustitin telah menyumbangkan 228 karya tulis dan telah dibaca oleh ribuan khalayak. Sungguh ini adalah prestasi yang sangat pantastis dan tidak semua orang bisa melakukannya. Bahkan 6 hari sebelum akhir hayatnya Prof. Agustitin berpesan kepada Rohimin supaya semua tulisannya segera dibukukan agar menjadi suatu karya yang dapat bermanfaat bagi orang lain.

Kini beliau sudah tiada dan pergi meninggalkan kita menghadap kepada Allah untuk selamanya dengan meninggankan banyak kenangan indah dalam setiap hati orang-orang yang pernah mengenal dan dekat bersamanya. Semua kenangan itu penuh dengan pembelajaran yang sangat berharga bagi kebaikan hidup kita di dunia sampai akhirat nanti. Salah satu kenangan terakhir yang beliau tulis di media SinarLima adalah tulisan tentang kematian, ternyata ini adalah isyarat bahwa beliau tidak lama lagi akan meninggalkan dunia yang fana’ ini. Rupanya ini adalah cara Allah untuk memberi pelajaran bagaimana hakekat kematian dan menghadapinya menuju kematian yang indah (husnul khatimah). Mari kita baca dan kita perhatikan dengan kebeningan hati dan kecerdasan pikiran beberapa cuplikan tulisan beliau yang terakhir.

“Kematian datang secara tiba-tiba, yang hanya bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan amalan-amalan yang dapat membantu kita kelak ketika sudah tidak ada di dunia.”

“Para alim dan orang bijak menegaskan bahwa kematian bisa dijadikan pengingat agar kita selalu mengingat kematian setiap hari, bahkan setiap hembusan nafas. Tugas kita di dunia hanya menunggu waktu kapan akan dipanggil untuk menghadap sang pecipta, sang pemilik bumi dan langit.”

“Kematian selalu membuat hati menjadi tersentuh, dan mengingatkan kita tentang kematian yang senantiasa menghampiri siapa saja dan tidak memandang waktu kapan kematian itu akan menjemput. Jadikan kematian itu hanya pada badan, karena tempat tinggalmu ialah liang kubur dan penghuni kubur senantiasa menanti kedatanganmu setiap masa.”

Atas nama Pengurus Wilayah NW DKI Jakarta dan media SinarLIMA (Sinar5News.com) mengucpakan bela sungkawa yang mendalam, semoga Allah SWT menempatkan Al Marhum Prof. Dr. H. Agustitin Setyobudi, MM, Ph.D, di tempat yang layak di surga Firdaus bersama Nabi Muhammad SAW dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi mushibah ini. Aamiin.

Jakarta, 15 Dzulhijjah 1441 H/5 Agustus 2020 M