Renungan Seorang Musafir : Value of Zakat

Renungan
Renungan
banner post atas

 

Hartamu bukan rezekimu
Rezekimu, harta yang engkau keluarkan
Bagi mereka yang memerlukan
Satu suap makanan untuk mereka yang lapar Lebih bermakna dibandingkan segenggam emas Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.

Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Taubah:103).
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ (QS.Al Baqarah: 43). Mereka yang beriman  kepada yang ghaib,  yang mendirikan shalat,  dan menafkahkan sebahagian rezki  yang Kami anugerahkan kepada mereka”. (QS. Al Baqarah:3).

Iklan

Setelah Sayyidina Abu Bakar al Shiddiq Radliyallahu Anhu dilantik menjadi khalifah al Rashidin beliau berkata dan mengajak para Sahabatnya untuk memerangi dua kelompok perusak Islam yakni para pendakwa Nabi Palsu dan orang-orang yang ingkar membayar zakat.
Ajakan tersebut oleh Sayyidina Umar ibn al Khattab dijawab; Ya Khalifatullah, ajakanmu yang pertama yakni kaum pendakwa dirinya sebagai nabi Palsu, kami bersetuju, namun bagi ajakanmu yang kedua yakni memerangi kaum ingkar zakat perlu dipikirkan dan dipertimbangkan, bukankah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda;”Sesiapa yang telah bersyahadat, maka aman darahnya untuk ditumpahkan (diperangi), aman kehormatannya untuk dizolimi dan aman pula harta bendanya untuk di rampas”.

Mendengar argumentasi penolakan dari sahabat terdekatnya, lalu Abdu Bakar dengan lantang dan tegas berkata, Wahai Umar, apakah engkau keras semasa Jahlilah dan lemah ketika memperjuangkan tegaknya agama Allah, tidakkah engkau membaca dan mencermati ayat Allah surat al Baqarah/2:43 yang bererti; Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’?. Demi Allah Wahai Umar Aku akan memerangi orang-orang yang membedakan kewajiban mendirikan salat dan membayar zakat”.

Setelah mendengar ketegasan dan hujjah Abu Bakar al Shiddiq tersebut Umar dan para sahabat lain lalu berkata; kami mendengarkan dan kami ikut memerangi mereka karena Allah dan rasulNya. Menyimak beberapa ayat al Qur’an dan hujjah Sayyidina Abu Bakar dalam pragmen dialogis yang ditempilkan Sayyidina Abu Bakar al- Shiddiq dan Sayyidina Umar ibn al Khattab, maka dapat disimpulkan bahawa membayar zakat merupakan prasyarat ibadah salat dapat diterima.

Ibadah salat dan zakat tidak dapat dipisahkan, kedua-duanya merupakan satu mata uang yang tidak akan bermakna jika sebelahnya dipisahkan dari yang satunya, karena itu jika ingin ibadah kita dikabulkan Allah, maka kedua-dua perintah mendirikan salat dan menunaikan zakat (bagi yang sudah berkewajiban) mesti dijalankan secara bersama.
Ibadah salat merupakan lambang ketaatan yang bersifat hubungan personal (habl minallah) yakni hubungan vertikal manusia kepada Tuhannya, sedangkan zakat merupakan perlambang ketaatan manusia kepada Tuhannya melalui hubungan baik dengan manusia (habl minannas) atau yang lebih dikenali sebagai hubungan yang bersifat horizontal.

BACA JUGA  Aksi Solidaritas Masyarakat Sumbawa Untuk Rakyat Palestina

Selain zakat berfungsi sebagai lambang ketaatan kepada Rabb al-Izzati, juga zakat berfungsi sebagai pembersih harta benda seseorang (Tutahhiruhum:untuk membersihkan harta benda mereka), kalimat tersebut bererti mensucikan secara zohir, seolah-olah pada harta yang kita hasilkan terdapat banyak kotorannya, maka perlu dibersihkan seperti membersihkan badan, pakaian yang tersentuh kotoran.

Pada lanjutan ayat tersebut juga menjelaskan zakat berfungsi sebagai pembersih batin (wa Tuzakkihim biha: untuk membersihkan batin mereka) dari kotoran salah persepsi yakni harta benda diberikan oleh Allah dan di dalamnya terdapat pula hak-hak orang lain, karena itu wajib dishare kepada para mustahiq (mereka yang berhak).

Al-Syaikh Abdullah ibn ‘Abdul Mubin dalam kitab tanbih al-Ghafilin Melayu bahwa orang-orang yang mengeluarkan zakat harta dan fitrahnya, akan diabadikan namanya  pada ketujuh langit: pertama pemurah (karîman), langit kedua dengan nama sangat pemurah (Jawwâdan), langit ketiga orang yang taat (muthî’an), langit keempat orang baik (bâran), langit kelima diterima (maqbûlan), langit keenam dipelihara (mahfûdzan) dan langit ketujuh diampuni semua dosanya (maghfûran zunûbuhu). Sedangkan bagi mereka yang tidak membayar zakat akan dituliskan namanya pada langit pertama kedekut (bakhîlan), kedua sia-sia/merugi (lâghiyan), ketiga merasa memiliki (malikan), keempat merasa tercukupi oleh harta-bendanya (mugtannan), kelima pelaku maksiat (‘Âshiyyan), keenam tercabut keberkatan dari harta bendanya di ddaratan mahupun di lautan (manzûl barakah lâ yahfadzu mâlahu fî barrin walâ bahrin) dan ketujuh dihalau/ditolak oleh Allah (mathrûdan). (Tanbih al-Ghafilin:10-11).

Rasulullah sallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda yang artinya:”kecelakaan bagi orang-orang kaya (dunia), mereka akan diadukan oleh para fuqara’ di peradilan Allah Azza wa Jalla; Mereka (orang-orang fakir) akan berkata; mereka telah menzolimi kami, mereka tidak memberikan hak-hak kami yang ada pada mereka ya Rabb, Allah berfirman; demi keagunganKu dan ketinggian diriKu, Aku akan tegakkan kadilan untuk kalian daripada mereka, lalu Rasulullah membaca ayat al-Qur’an Surat al-Ma’arij:24-25), dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (Mukasyafatul Qulub:65).

Diceritakan bahawa sekelompok orang dari kalangan Tabi’in keluar bersama menuju rumah Abi Sinan, setelah kami duduk, lalu Abu Sinan mengajak kami untuk menuju seorang sahabat beliau memberi ta’ziah atas kematian saudaranya.
Muhammad ibn Yusuf al-Faryani berkata; lalu kamipun pergi ke rumah jirannya Abi Sinan, setelah kami masuk ke dalam rumah jiran beliau, kami dapatkan jiran beliau sedang menangis bersedih atas kematian saudaranya, kerana itulah kami berikan kata-kata nasihat, namun beliau tiada menerima ta’ziah kami, lalu  kami berkata kepada jiran Abi Sinan, tidakkah engkau ketahui bahwa kematian itu pasti terjadi?, dia berkata; benar, akan tetapi aku menangis kerana siksa kubur yang didapatkan saudaraku.

Apakah engkau telah dibukakan hijab oleh Allah sehingga engkau mengetahui saudaramu dalam azab Allah?, tidak jawabnya tegas, akan tetapi setelah kami selesai dari menguburkan jenazahnya, semua orang pulang kembali sedangkan aku sendiri duduk di atas kubur saudaraku, tiba-tiba aku mendengar suara berkata apakah kalian akan menyiksa diriku padahal aku telah berpuasa dan juga mendirikan salat?, suara itulah yang menyebabkan aku menangis, aku menggali tanah-tanah kuburan saudaraku untuk melihat apa yang terjadi, alangkah terkejutnya aku, melihat kuburannya terbakar api, di pundak saudaraku terlihat api menyala-nyala, lalu aku berusaha memadamkan api-api tersebut sehingga tanganku ini terbakar karenanya, lalu ia menunjukkan kepada kami tangannya yang terbakar dan terlihat hitam terbakar, lalu akupun menutup kembali kubur saudaraku dan aku meninggalkan kuburanya, bagaimana mungkin aku tidak bersedih dan menangisi keadaan saudaraku?.

BACA JUGA  Ketum MIO AYS Prayogie Melantik Pengurus MIO DKI Jakarta Periode 2021-2025 dan PD Se DKI Jakarta Penuh Khidmat dan Lancar

Lalu kami bertanya kepadanya, apakah yang saudaramu lakukan semenjak hidup di dunia ini?, ia pun berkata; saudaraku tidak pernah membayar zakat hartanya, perihal ini telah membenarkan firman Allah dalam surat ali Imran/3:180 yang artinya; “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Setelah kami mendengar cerita jiran Abi Sinan, kamipun keluar menuju rumah Abi Dzar sahabat Rasulullah sallalahu Alaihi Wasallam dan kami ceritakan kisah jiran Abi Sinan dan kami berkata kepada beliau, orang Yahudi dan Nasrani mati belum pernah kami dengar akan hal seperti itu terjadi, lalu Abu Dzar berkata;”tiada keraguan, mereka sudah pasti di neraka, adapun kejaidian itu diperlihatkan kepada ahli iman agar menjadi pelajaran bagi kita semua”. Seperti ditegaskan Allah dalam surat al-An’Am/6:104 yang artinya: ”Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu)”. (Mukasyafatul Qulub:65).

Daripada cerita tersebut dapat diambil satu hikmah besar terkait dengan kewajiban membayar zakat harta yang kita miliki. Hakikat dari kepemilikan harta-benda ialah titipan (amanah) Allah untuk digunapakai sesuai dengan aturan yang telah ditentukan Allah melalui bagida Rasul. Pada sebagian harta yang kita dapatkan terdapat hakkun lissaili wa al-mahrum (hak orang-orang yang memerlukan dan mereka-mereka yang tiada dapat melakukan perbuatan –menganggur–). Tunaikan amanah dengan memberikan hak-hak orang lain dalam harta-benda kita, dengan itu harta akan dibersihkan dan dapat menjadi media keselamatan di akhirat.