Prof H Agustitin:Puasa Romadon Dan Derajat Takwa

Prof H Agustitin:Puasa Romadon Dan Derajat Takwa

Di sebut dalam QS 2 ayat 183 mewajibkan kepada orang orang yang beriman untuk berpuasa, seperti orang orang sebelum kita agar mencapai derajat Takwa.

Begitu pula Allah Swt berfirman
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.”
(Qs. Ali-Imran: 102).

Demikian pula pesan pesan ketakwaan itu sudah membudaya dalam kehidupan bangsa Indonesia seperti disebut dalam butir-butir Pancasila, dalam spanduk spanduk, pesan pesan kemasyarakatan, dalam butiran misi lembaga-lembaga pendidikan dan dalam setiap pasal persyaratan untuk menjadi pemimpin atau menduduki jabatan dalam sebuah organisasi atau lembaga pemerintahan dan dalam butiran nasehat orang-orang tua kita. Namun dengan sedemikian akrabnya kita dengan idiom ‘takwa’ ini, apakah kita telah menemukan orang yang benar-benar bertakwa? Seberapa gigihkah kita untuk menjadi insan yang bertakwa? Atau kita perlu mengajukan pertanyaan, sedemikian penting ketakwaan bagi umat manusia

Berbicara tentang takwa merupakan bahasa Arab yang secara etimologi merupakan bentuk masdar dari kata-kata ittaqa-yattaqiy, yang berarti menjaga dari segala yang membahayakan. Dalam istilah syar’i, kata takwa mengandung pengertian,“menjaga diri dari segala perbuatan dosa, kemaksiatan dan hal-hal yang dilarang Allah SWT dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya.” Al-Qur’an menyebut orang yang bertakwa dengan muttaqi, jamaknya muttaqin dan berulang sebanyak 50 kali, dan kata takwa secara keseluruhan dengan berbagai varian dan dalam konteks yang bermacam-macam berulang sebanyak 258 kali, hal ini menunjukkan sedemikian penting dan urgennya pembahasan mengenai ketakwaan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(Qs. Al-Hujurat: 13).

Dengan menyimak satu ayat ini saja, telah cukup menunjukkan betapa pentingnya ketakwaan itu. Selain itu Al-Qur’an juga tidak luput untuk menyampaikan kepada kita janji-janji Allah SWT kepada orang-orang yang bertakwa, diantaranya, diberikan kemudahan atas segala urusannya.
(Qs. 65: 4),
diberikan keberkahan dari langit dan bumi
(Qs. 7: 96),
mendapat kemenangan (Qs. 78: 31) dan mendapat perlindungan Allah (Qs. 45: 19).

Menjadi sangat wajar jika ulama-ulama dan da’i kita tanpa lelah menggedor-gedor kesadaran kaum muslimin untuk bertakwa dan senantiasa meningkatkannya. Hanya saja ada hal penting yang terkadang lalai  atau lupa untuk tersampaikan. Takwa tidak hanya berkaitan dengan ketaatan dalam melakukan hal-hal yang diperintahkan namun juga kerelaan untuk meninggalkan yang terlarang. Ketakwaan sangat berkaitan erat dengan menjaga perut dari makanan haram, sebab pantangan terbesar ahli takwa adalah memakan makanan yang dilarang .

BACA JUGA  Prof Harapandi :Dialog dengan Tuhan

Allah SWT berfirman, “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.
(Qs. Al-Maaidah: 88).

Dari ayat tsbt, perintah untuk memakan makanan yang halal lagi baik (tayyib) lebih didahulukan dari perintah untuk bertakwa, sebab seseorang tidak akan mencapai derajat ketakwaan jika tidak lebih dahulu mencegah masuknya makanan yang diharamkan ke dalam  perut.

Di katakan dalam hadits disebutkan,
“Sesungguhnya syaitan itu dalam diri anak Adam layaknya darah yang mengalir.” (Safinat al-Bihar, juz I, hal. 698). Syaitan masuk kedalam diri manusia seringnya lewat makanan haram. Sebagaimana yang diketahui, makanan adalah penyuplai energi bagi tubuh, yang lewat energi itu manusia bergerak dan beraktivitas.

BACA JUGA  Hikmah pagi :INILAH 10 ORANG TERKAYA DI INDONESIA

Apabila suplai energi bagi tubuh dari sesuatu yang di larang, maka yang mendominasi motivasi seseorang beraktivitas adalah nafsu yang buruk. Jikalau aliran darah, yang buruk menguasai dan leluasa dalam tubuh manusia,semisal makanan haram masih tersisa dan mencemari dalam tubuh, maka akan menjadi kurang baik,karena itu bertakwalah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan ramai maupun sendiri. Dalam keadaan terang-terangan maupun rahasia. Karena Allah Ta’ala mengawasi hamba-Nya. Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Ukuran baik buruknya seseorang sangat tergantung pada hatinya. Jika hatinya lurus, maka perilakunya juga baik, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, sepantasnya seseorang selalu memperhatikan dan memperbaiki hatinya, jika dia menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Beberapa macam hati manusia, semoga bisa menjadi panduan dan pengingat untuk memperbaiki hati. Hanya kepada Allah Azza wa Jalla kita memohon pertolongan. Bermacam macam hati mnusia. Ada qalbun salim (hati yang selamat; sehat); qalbun mayyit (hati yang mati); dan qalbun maridh (hati yang sakit). Orang yang memilik hati yang bersih pasti selamat pada hari kiamat,
Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
(Asy-Syu’ara’/26: 88-89).

Dikatakan qalbun salim (hati yang selamat; sehat) karena sifat selamat dan sehat telah menyatu dengan hatinya. Di samping, ia juga merupakan lawan dari hati yang sakit.

BACA JUGA  Hikmah pagi :INILAH 10 ORANG TERKAYA DI INDONESIA

Banyak penjelasan tentang makna qalbun salim, tetapi semuanya terangkum dalam penjelasan bahwa, Qalbun salim merupakan hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang berseberangan dengan perintah dan larangan Allah; Bersih dan selamat dari berbagai syubhat yang menyelisihi berita-Nya. Ia selamat, tidak menghambakan diri kepada selain-Nya, tidak menjadikan hakim selain Rasul-Nya; Bersih dalam mencintai Allah Azza wa Jalla dan dalam berhakim kepada Rasul-Nya; Bersih dalam rasa takut dan berharap kepada-Nya, dalam bertawakal kepada-Nya, dalam bertaubat kepada-Nya, dalam menghinakan diri di hadapan-Nya, dalam mengutamakan mencari ridha-Nya di segala keadaan dan dalam menjauhi kemurkaanNya dengan segala cara. Hal Inilah hakikat penghambaan (ubudiyah) yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata.

Jadi, qalbun salim adalah hati yang selamat dari perbuatan syirik. la hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Allah semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakal, inabah (taubat), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja’ (pengharapan). Ia juga mengikhlaskan amalnya untuk Allah semata. Jika mereka mencintai maka mencintai karena Allah Azza wa Jalla.
Apabila membenci maka membenci karena Allah Azza wa Jalla. Jika memberi maka memberi karena Allah Azza wa Jalla .
Apabila menolak artinya menolak karena Allah Azza wa Jalla. Namun ini saja tidak cukup, mereka juga harus selamat dari ketundukan serta hanya berhakim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mereka harus mengikat hatinya  dengan kuat untuk mengikutinya , dalam ucapan atau perbuatan. Dia menjadikan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi hakim bagi dirinya sendiri , dalam masalah besar maupun kecil. Sehingga dia tidak mendahuluinya, baik dalam kepercayaan, ucapan maupun perbuatan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

BACA JUGA  KHUTBAH JUMAT EDISI 12 JUNI 2020 MENCARI KETENANGAN DIRI MENGHADAPI COVID 19

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.”
(Al-Hujurat/49: 1).

Artinya, janganlah kamu berkata sebelum Nabi berkata! Ja­nganlah kamu berbuat sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan!

Sebagian ulama berkata, “Tidak ada suatu perbuatan -betapa pun kecilnya- kecuali akan dihadapkan pada dua pertanyaan: Kenapa dan bagaimana?” Maksudnya, mengapa engkau melakukannya dan bagaimana kamu melakukann

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA