Prof H Agustitin: PUASA MERUPAKAN PRAKTEK DARI PENDIDIKAN KARAKTER

Prof H Agustitin: PUASA MERUPAKAN PRAKTEK DARI PENDIDIKAN KARAKTER

Puasa merupakan kewajiban yang seharusnya tidak mahaberat karena sifat ibadah ini sangatlah terkait dengan JIWA kits. Jika salat, zakat, haji, dan ritual ibadah lain dapat dilihat secara kasatmata karena bentuk fisik dari ibadah tersebut bisa terlihat,

Dalam praktik berpuasa,karakter kejujuran diri seseorang benar-benar diuji karena hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu apakah hari itu berpuasa atau tidak.
Karena sifatnya yang sangat individual, ibadah puasa lebih tepat dikatakan sebagai cara Tuhan mengembalikan karakter kesadaran manusia bahwa pangkal dan pokok setiap amal dan usaha kita ialah keikhlasan dan kejujuran diri. Aspek karakter, kesadaran intuitif dan afeksi dalam ibadah puasa sangat tinggi karena perilaku ini sesungguhnya gambaran moral setiap orang tentang hidup dan kehidupannya. Sama persis dengan tujuan pendidikan, hakikinya setiap guru selalu memegang kesadaran intuitif siswa sebagai target utama proses belajar-mengajar agar anak-anak memiliki karakter jujur sebagai fondasi perilaku mereka ketika berinteraksi dengan manusia dan lingkungannya.Esoteris dan eksoteris
Dalam agama, istilah esoteris dan eksoteris selalu digunakan untuk menganalisis persamaan dan perbedaan antaragama. Frithjof Schuon (1987) ialah salah satu penggagas tentang relasi antaragama dengan menggunakan pendekatan ini.Menurut Schuon, hidup ini mengandung tingkatan-tingkatan. Dari segi metafisik, hanya pada Tuhanlah tingkat tertinggi (adikodrati) dan terdapat titik temu berbagai agama, sedangkan di tingkat bawahnya, agama-agama tadi saling berbeda. Inilah yang memungkinkan kita memahami versi Schuon tentang perbedaan hakikat dan perwujudan agama yang sangat penting artinya, menurut pandangannya.Dalam konteks puasa, tujuan seseorang berpuasa sebenarnya merupakan aspek esoteric, yaitu kenyataan terdalam dalam ibadah ini sepenuhnya merupakan kesadaran dan tanggung jawab setiap orang. Pada level yang sama, aspek esoteris ini juga harus menumbuhkan kesadaran moralitas tingkat tinggi bahwa kejujuran, akhlak yang baik, serta terbuka dan toleran merupakan aspek-aspek instingtif dari setiap orang yang harus selalu digali melalui sebuah proses belajar. Sebagaimana halnya berpuasa, belajar juga sesungguhnya harus disadari sebagai proses penanaman moralitas di atas secara terus-menerus. Komunitas sekolah harus memiliki kesadaran esoteris dalam menjalankan proses belajar-mengajar.

BACA JUGA  Prof Harapandi : Perusak Amal

Kenyataan yang kita hadapi saat ini justru sebaliknya, sekolah terlalu pekat dan tertuju pada aspek eksoteris tujuan pembelajaran, yaitu orientasi pada nilai dan hasil lebih mengemuka. Sekolah hanya dipandang sebagai kebutuhan duniawi tanpa ada rekayasa psikologis yang dapat menunjukkan hidup ada ujungnya, dan ujung dari kehidupan ialah kebaikan pada sesama manusia. Padahal, melalui berpuasa, seharusnya setiap guru, orangtua, dan siswa dewasa diajak untuk kembali kepada moralitas esoteris, moralitas yang menyebarkan benih-benih kejujuran sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad, nabi semesta alam. Nabi Muhammad ialah penganut jalan Sufi yang benar. Di saat dia kebingungan melihat kehidupan serbahedonis kaum pagan Arab, Nabi berkontemplasi ke gua Hira untuk menenangkan diri, meng­asah batinnya.Hingga akhirnya beliau menerima wahyu pertama dan mengalami kenikmatan tersendiri dalam berhubungan langsung dengan Tuhan melalui kontemplasi. Namun, setelah itu, beliau kembali lagi ke masyarakatnya dengan membawa pesan-pesan tentang kebaikan dan keburukan berdasarkan moralitas yang jujur.Berjalan seimbang
Kesadaran sufistis Nabi inilah yang seharusnya disadari semua yang melakukan ibadah puasa, yaitu puasa berfungsi sebagai trigger kesadaran instingtif manusia untuk mengingat

BACA JUGA  Doa Hari ini Minggu 12 Juli 2020

Allah Ta‘ala bahwasanya Dia berfirman, “Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku Sendiri yang akan memberi imbalannya” (Shahih Muslim).

Rasulullah Saw. bersabda kepada seseorang,
“Hendaklah kamu berpuasa, karena tidak ada yang serupa dengannya” (an-Nasa’, Siyam 2220). Allah Swt. juga berfirman, “Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”
(QS. 42:11).

Puasa adalah sifat Samdaniyyah (sifat khusus yang hanya menjadi milik Allah Swt. sebagai Maha Tempat Bergantung), yakni pelepasan dan penyucian dari makanan. Hakikat makhluk menuntut adanya makanan. Ketika hamba hendak menyifati sesuatu yang bukan termasuk bagian dari hakikatnya untuk bisa ia sifati, dan ia menyifatinya hanya karena tuntunan syari‘at berdasarkan firman Allah swt.:
“Telah ditetapkan bagi kalian puasa sebagaimana telah ditetapkan bagi orang-orang sebelum kalian” (QS. 2:183), maka Allah Swt. berfirman padanya, “Puasa adalah milik-Ku, bukan milikmu!”—dengan kata lain, “Akulah yang seharusnya tidak makan dan minum. Dan jika puasa adalah seperti itu dan yang membuatmu memasukinya adalah karena Aku mensyari‘atkannya padamu, maka Aku Sendiri yang akan memberi imbalannya.”

BACA JUGA  40 Hadits As Shaulatiyah. Hadits Ke Dua Belas

Allah swt. mengatakan kepada orang yang berpuasa, “Akulah yang menjadi imbalannya, karena Akulah yang dituntut oleh sifat pelepasan dari makanan dan minuman, tetapi engkau melekatkan sifat itu padamu wahai orang yang berpuasa, padahal sifat itu bertentangan dengan hakikatmu dan bukan milikmu. Karena engkau bersifat dengannya ketika engkau berpuasa, maka sifat itu memasukkanmu kepada Diri-Ku. Kesabaran (yang ada dalam puasa) adalah pengekangan bagi jiwa, dan engkau telah mengekangnya atas perintah-Ku dari mengonsumsi makanan dan minuman yang diperbolehkan oleh hakikatnya.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan. Kegembiraan saat berbuka”— ini adalah kegembiraan untuk ruh hewaninya, bukan yang lain—“dan kegembiraan saat bertemu dengan Rabbnya”—dan ini adalah kegembiraan untuk jiwa rasionalnya (an-nafs an-nāṭiqah), yakni sisi lembut Rabbaninya (al-laṭīfah ar-rabbāniyyah). Puasa memberinya pertemuan dengan Allah Swt., yakni musyahadah atau penyaksian.

Puasa menghasilkan pertemuan dengan Allah dan penyaksian-Nya. Salat adalah munajat, bukan musyahadah, dan terdapat hijab yang menyertainya.

“Sesungguhnya Allah swt. berfirman, “Tidak ada seorang manusia pun yang Allah berbicara dengannya kecuali dalam bentuk wahyu atau dari belakang hijab” (QS. 42:51).

Allah berfirman, “Aku membagi shalat menjadi dua bagian antara Aku dan hamba-Ku. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya lagi untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Hamba berkata: Alḥamdulillahirabbil‘alamin’, Allah menjawab: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’.”

Tidak ada pembagian dalam puasa. Ia hanya milik Allah swt. dan bukan milik hamba. Tetapi hamba memperoleh imbalan dan ganjarannya dikarenakan puasa itu sendiri adalah milik Allah swt.

BACA JUGA  Innalillahi, Syekh Ali Jabeer Ditikam Orang Tak Dikenal Saat Isi Pengajian

Rahasia nan mulia, yakni musyahadah dan munajat tidak akan pernah bisa bersatu. Musyahadah membuat orang terpana, sementara percakapan memberikan pemahaman. Dalam sebuah perbincangan, engkau lebih memperhatikan apa yang sedang dibincangkan, bukan orang yang sedang berbicara, siapa pun atau apa pun itu. Karena itu, pahamilah Alquran niscaya engkau akan memahami Al-furqan.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA