Politik Harapan Oleh : Zulkarenaen

banner post atas

Terlalu ideal. Kata yang tepat untuk kondisi Politik kita. Kata mereka politik itu ibarat gelas kosong–tergantung siapa yang mengisinya. Jika ia diisi dengan air kotor, maka kotorlah ia. Jika ia diisi dengan air putih, maka bersihlah ia. Kalimat ini yang sering dinarasikan oleh politisi di masa pemilihan. Kalimat tersebut adalah respon untuk anggapan masyarakat akan jeleknya politik. 

Anda tentu lumrah dengan money politic. Ia merupakan tanda ketidak percayaan, ia juga tanda dari respon terhadap pengalaman buruknya politik sebelumnya. Politik bagi kebanyakan orang sama sekali tak memiliki kemuliaan. Baik ontologi politik, doktrin Islam tentang politik masih sebatas ajaran yang tak membumi, ia sejauh ini belum terealisasi sesuai idealisasinya filsafat dan Islam. 

Dalam sejarah, politik selalu menghasilkan cost yang besar–tak hanya uang miliaran–bahkan pernah mengorbankan banyak nyawa. Perpecahan NW adalah contoh yang baik dalam hal ini. Terlepas kemudian banyak cendikiawan muslim dalam kurun abad terakhir menyuarakan bagaimana memandang perbedaan dengan lebih baik–hingga merekonstruksi ajaran Islam sendiri dari teosentris ke antroposentris. Banyak kemudian dari tokoh bangsa ini menyuarakan hal yang sama–mengkampanyekan keniscayaan akan perbedaan–yang tak seharusnya menghadirkan musibah bagi kehidupan. 

Iklan

Namun dalam realitasnya tak pernah seindah apa yang dikatakan, ia sulit direalisasikan. Ia sejauh ini semacam obat bius untuk orang sakit meminjam istilah Paulo Freire ketika menjelaskan bagaimana sebuah lembaga memastikan kelanggengan hegemoninya kepada massa–menenangkan massa dengan kata-kata indah semacam politisi yang mengatakan politik ibarat gelas–tergantung yang mengisinya. Kalimat ini dalam realitasnya mampu menyihir banyak orang dan sangat berpengaruh–dari yang semula tak percaya, berubah hingga membela politisi itu. 

Ada praktik pemaksaan untuk sama dalam konteks organisasi. Bagi mereka organisasi haruslah kompak–suara harus satu–berbeda bermakna penghianat. Hal inilah yang sering terjadi dalam organisasi terutama organisasi masyarakat yang memiliki banyak level kepengurusan. Terlepas idealnya memang harus satu suara jika itu organisasi. Namun yang sering dilupakan adalah alasan orang berafiliasi ke sebuah organisasi; untuk mendapatkan keuntungan bersama. Sehingga jika tujuan itu tak terjadi, maka dipastikan akan terjadi perbedaan walau itu organisasi yang idealnya satu suara. Dalam hal ini, konsekuensi bersama dalam organisasi harus diperhatikan dengan baik. 

BACA JUGA  Ada 7 Cara berbakti pada orangtua

Perbedaan dalam organisasi karena politik adalah keniscayaan ketika insan organisasi tak menjaga alasan kolektif berorganisasi. Tak perlu kemudian memaksa orang untuk mengharuskan sama walau kita satu organisasi. Pandangan ini tentu untuk orang-orang tertentu adalah pandangan yang buruk sebagai insan satu organisasi. Namun saya pikir, pandangan ini penting ditimbang untuk mengurangi potensi ribut karena perbedaan arah politik. 

Seperti yang disebut di awal. Terlalu ideal bahkan akan semakin ideal, jauh dari realitas jika tak ada aksi perbaikan. Akan ada usaha dan waktu yang lebih banyak kemudian harus dilakukan di masa pemilihan, terutama memastikan orang yang satu organisasi tak menghalangi kepentingan orang direkomendasikan organisasi–biasanya yang terjadi adalah saling curiga–saling menekan dan lain seterusnya. 

Pandangan di atas tentu berdasarkan perbedaan tempat berdiri. Mereka yang di sana tentu memiliki pandangan yang berbeda karena perbedaan posisi. Mereka pasti berpandangan akan keharusan kita satu pandangan dalam sebuah organisasi terutama dalam hal politik–hingga mereka mengatakan inilah ukuran keloyalan saya dan anda. Tak sama berarti tak loyal–begitulah faktanya. Bagi mereka kepentingan organisasi adalah yang utama terlebih lagi ketika hal itu menguntungkan mereka. Mereka secara tidak langsung berpikir merekalah manusia yang perlu sekali diperlakukan dengan baik dengan segala manfaat yang dimiliki oleh organisasi terutama manfaat dari politik. Saya dan anda bagi mereka adalah orang yang paling harus berkorban demi keberhasilan organisasi. Mereka memberikan kita ajaran-ajaran, menjelaskan kenapa kita harus berjuang. Pada akhirnya yang ada hanyalah pemanfaatan–habis manis sepah dibuang.