banner post atas

PERANAN TUAN GURU KYAI HAJI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID DALAM PEMBERDAYAAN KELUARGA DAN KB DI NTB (Prof. Dr. H. Haryono Suyono)

   Program pemberdayaan keluarga Sebagal upaya meningkat mutu keluarga telah dimulai sejak lama, yakni sebelum bangsa ini menyatakan kemerdekaanya. Namun, baru pada tahun lima puluhan disadari, terutama oleh para dokter ahli kandungan, salah satu kendalanya adalah tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan yang sangat tinggi. Kesadaran itu ternyata sulit sekali disebarluaskan kepada para pemegang kendali pemerintahan, sehingga baru pada tahun 1960-an mulai ada tanda-tanda komitmen untuk mengembangkan usaha yang semakin terbuka.

   Antara kesadaran dan upaya konkret ternyata tidak mudah untuk disatukan. Untuk melaksanakan suatu program konkret yang menguntungkan rakyat banyak, diperlukan suasana kondusif yang memungkinkan pemerintah merintis upaya itu secara resmi. Akhirnya pada tahun 1970, kondisi itu dianggap memungkinkan, sehingga pada saat itulah secara resmi pemerintah mulai melaksanakan program untuk menurunkan tingkat kematian ibu mengandung dan melahirkan, yang kemudian diposisikan sebagai Program Keluarga Berencana atau kemudian terkenal dengan nama Program KB Nasional. Dengan menurunkan tingkat kematian ibu mengandung dan melahirkan, diharapkan mutu keluarga dapat ditingkatkan dan orang tua dapat memberdayakan anak-anaknya dengan lebih baik.

Iklan
Ilustrasi Program KB – Sumber: Google

   Betapapun program KB yang memiliki tujuan utama menurunkan tingkat kematian ibu mengandung dan melahirkan mempunyai tujuan mulia, namun karena suasana belum kondusif. pemerintah tidak berani melaksanakan program itu secara nasional di seluruh Indonesia Program awal hanya digelar di enam Provinsi Jawa dan Bali, yaitu Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Dl Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali.
Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang terkenal mempunyai angka kematian ibu mengandung dan melahirkan sangat tinggi, belum bisa menerapkarn Program KB yang dimulai tahun 1970 itu. Alasannya bermacam-macam, tetapi salah satunya adalah, seperti daerah-daerah lainnya, masyarakat NTB, sekalipun sangat dianggap memerlukan program tersebut, belum kondusif untuk menerima program KB sebagai upaya menurunkan tingkat kematian ibu mengandung dan melahirkan.

BACA JUGA  Tingkatkan Kemampuan Personel, Kodim Lotim Gelar Pelatihan Editing

   Karena kondisi yang kurang menguntungkan itu, Program KB Nasional. sejak perencanaannya pada tahun 1970, berupaya keras menggalang dukungan dari para sesepuh dan pemimpin masyarakat, terutama para alim ulama. Berbagai pertemuan dengan alim ulama diadakan di daerah dan Jakarta. Pertemuan-pertemuan itu menghasilkan kesepakatan dan petunjuk-petunjuk untuk mengembangkan suasana yang kondusit agar program dengan tujuan luhur itu bisa diterima olen masyarakat. Di samping itu, pertemuan – pertemuan di berbagai tempat itu telah pula menyepakati berbagai langkah pemberdayaan keluarga dengan tujuan pembangunan keluarga sakinah atau keluarga maslahat atau keluarga sejahtera yang mempunyai kandungan nilal-nilai agama di dalamnya, terutama agama Islam.

Maulana syaikh dan kedua anaknya – Sumber: Google

   Mengatahui bahwa posisi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah seorang tipikal ulama yang berpikiran maju, dan meyakini bahwa agama Islam menjamin hak-hak wanita dengan memberikan kedudukan mulia terhadap wanita, maka program KB sangat menaruh perhatian terhadap dukungan Tuan Guru yang kharismatik tersebut. Terutama setelah mengetahui bahwa Tuan Guru mempunyai pesantren dengan pendidikan yang sangat dinamis, yang meliputi pendidikan untuk santri-santri pria dan wanita secara berimbang. Maka ketika program KB diterapkan di Propinsi Nusa Tanggara Barat, pemimpin dan para petugas KB di Propinsi itu diinstruksikan untuk segera memohon bantuan Tuan Guru untuk melangkah lebih dinamis. Program ini mendapat respon positif dari Tuan Guru sehingga program pemberdayaan keluarga, pemberdayaan kaum perempuan dan program KB di NTB berjalan dengan baik.

Foto Maulana Syaikh – Sumber : Google

   Melihat respons dan dukungan yang positif ini, kami selaku Deputi BKKBN pusat datang dan bersilaturrahmi kepada baliau di Mataram. Beliau sangat akrab dan menyatakan penghargaannya atas perhatian kami dari BKKBN tingkat pusat tersebut. Bahkan kami mendapat kesempatan, dengan didampingi Tuan Guru sendiri, mengadakan pertemuan dengan para santri dalam sebuah aula yang besar. Pertemuan dan dialog langsung dengan pimpinan pesantren dan para pelaksanaan program KB di Propinsi NTB Sungguh merupakan dukungan yang sangat besar terhadap pelaksanaan program KB di Provinsi NTB. Dengan dukungan yang besar itu suasana kondusif segera terbangun di NTB dan sejak itu program dan pelaksanaan tidak pernah mendapat hambatan sama sekali.

BACA JUGA  Jelang KONGRES HIMMAH KE-IX H. Irzani : Semua Calon Berpeluang Sama untuk Mendapat Dukungan Suara

   Selanjutnya Tuan Guru sering mengadakan pertemuan memberikan penjelasan langsung kepada santrinya. Beliau secara langsung memimpin pertenmuan dengan santri-santri dan memberikan dukungan kepada para tamu yang datang kepada beliau untuk menanyakan atau meminta pendapat tentang KB dan hukum yang melatarbelakangi pengembangannya. Dengan dukungan yang sangat positit dari Tuan Guru yang sangat kharismatik itu, program KB di daerah-daerah lain juga mendapat legitimasi berupa dukungan dari ulama setempat. Dalam konteks ini, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid telah memberikan kontribusi nyata bagi pembentukan suasana yang kondusif sehingga program proram KB menjadi salah satu prioritas program pemerintahan kepada masyarakat.

Akhirnya, secara pribadi saya mengatakan bahwa Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan seorang pelopor yang berani dan percaya. Ketika program KB mencarbasis dukungannya, beliau secara pribadi menyiapkan diri menjadi pelopor yang terpercaya dan berdiri paling depan dalam membangun keluarga yang sejantera. 

Sumber tulisan berasal dari buku Visi Kebangsaan Religius karya Mohammad Noor, Muslihan Habib, Muhammad Harfin Zuhdi