Pantun Renungan Edisi 12 ” Nasihat Abdullah bin Mas’ud”

0
79
banner post atas

Kam min mustadroj Binni’mati ‘alaihi
Abdullah bin Mas’ud mengingatkan kita
Banyak nikmat bisa buat orang terbuai
Padahal itu istidraj bagi dirinya

Di musnad Imam Ahmad ada riwayat
Dimana Rasul mulia bersabda
Nikmat berlimpah, tetap dalam maksiat
Itulah istidraj pada hakikatnya

Nasihat Abullah bin Mas’ud kedua
Tentang fitnah karena banyak dipuji
Hati-hati dengan yang ini juga
Pujian kadang melenakan diri

Iklan

Nasihat kedua perlu pemahaman
Bukan tak boleh dalam memuji
Silahkan saja lakukan pujian
Yang penting fitnah tidak terjadi

Pada nasihat yang ketiga
membahas orang yang tertipu
yaitu yang lalai dari akhiratnya
Sebab ditutup aibnya, dia tak tahu

Saat tak peduli dan mrasa tak tahu
Bahwa telah ditutup aib dosanya
Ia terus lakukan dosa yang baru
Mengira dosanya belum seberapa

Dengan istidraj sepatutnya waspada
Begitupula dengan pujian dan fitnah
Karena bisa membawa bencana
Khususnya nanti di yaumilqiyamah

Bersyukur ke hadirat ilahi Robbi
Karena aib kita ditutup oleh-Nya
Kurangi dosa wujud refleksi diri
dan berdoa agar aib tak terbuka

1. Dikutip dari kitab *Nashoih al-’Ibad* Bab ketiga Maqolah ke enam Ibnu Mas’ud r.a berkata :
كم من مستدرج بالنعمة عليه
“Betapa banyak orang yang terjebak dalam istidraj dengan nikmat yang terus tercurah kepadanya.”
وكم من مفتون بالثناء عليه
“Betapa banyak orang yang terkena fitnah karena pujian orang lain kepadanya”.
وكم من مغرور بالستر عليه
“dan betapa banyak orang yang tertipu dengan tertutup aib dirinya”.

2. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a., Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad)

3. Ibnu Athaillah al-sakandariy

خَفْ مِنْ وُجُودِ اِحْسَانِهِ اِلَيكَ وَدَوَامِ اِسَاءَتِكَ مَعَهُ اَن يَكُوْنَ ذَلِكَ اِسْتِدَرَاجًا لَكَ سَنَسْتَدِرُجُهُمْ مِنْ حَيثُ لَايَعْلَمُونَ
“Takutlah Anda atas karunia Allah yang selalu Anda dapatkan, (sedangkan) Anda tetap berbuat buruk pada-Nya, sebab bisa jadi itu istidraj bagi Anda (yang ama-lama akan menghancurkan Anda), akan kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui”
4. Terkait pujian.
Dalam satu hadits diriwayatkan: “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ

“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.”
Kalimat ini diucapkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berulang kali, kemudian Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لاَ مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلاَنًا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلاَ أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ

“Siapa saja di antara kalian yang tidak boleh tidak harus memuji saudaranya, hendaklah dia mengucapkan, “Aku mengira si fulan (itu demikian), dan Allah-lah yang lebih tahu secara pasti kenyataan sesungguhnya, dan aku tidak memberikan pujian ini secara pasti, aku mengira dia ini begini dan begitu keadaannya”, jika dia mengetahui dengan yakin tentang diri saudaranya itu (yang dipuji).” (HR. Bukhari – Muslim).
Dari hadits di atas bukan berarti memuji itu tidak boleh. Terkait hal ini, Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَقَدْ جَاءَتْ أَحَادِيث كَثِيرَة فِي الصَّحِيحَيْنِ بِالْمَدْحِ فِي الْوَجْه . قَالَ الْعُلَمَاء : وَطَرِيق الْجَمْع بَيْنهَا أَنَّ النَّهْي مَحْمُول عَلَى الْمُجَازَفَة فِي الْمَدْح ، وَالزِّيَادَة فِي الْأَوْصَاف ، أَوْ عَلَى مَنْ يُخَاف عَلَيْهِ فِتْنَة مِنْ إِعْجَاب وَنَحْوه إِذَا سَمِعَ الْمَدْح . وَأَمَّا مَنْ لَا يُخَاف عَلَيْهِ ذَلِكَ لِكَمَالِ تَقْوَاهُ ، وَرُسُوخ عَقْله وَمَعْرِفَته ، فَلَا نَهْي فِي مَدْحه فِي وَجْهه إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ مُجَازَفَة ، بَلْ إِنْ كَانَ يَحْصُل بِذَلِكَ مَصْلَحَة كَنَشَطِهِ لِلْخَيْرِ ، وَالِازْدِيَاد مِنْهُ ، أَوْ الدَّوَام عَلَيْهِ ، أَوْ الِاقْتِدَاء بِهِ ، كَانَ مُسْتَحَبًّا . وَاللَّهُ أَعْلَم

“Cukup banyak hadits dalam shahihain—Shahih Bukhari dan Shahih Muslim— yang meriwayatkan tentang (bolehnya) memuji orang lain di hadapannya. Para ulama mengatakan, metode untuk mengkompromikan hadits-hadits di atas adalah bahwa hadits yang melarang itu dimaksudkan untuk orang yang berlebihan dalam memuji, atau pujian yang lebih dari sifat yang sebenarnya, atau pujian yang ditujukan kepada orang yang dikhawatirkan tertimpa fitnah berupa ujub dan semacamnya ketika dia mendengar pujian kepada dirinya.
Adapun untuk orang yang dikhawatirkan tidak tertimpa fitnah tersebut, baik karena bagusnya ketakwaan yang ada pada dirinya dan teguhnya/mantapnya akal serta ilmunya, maka tidak ada larangan memuji di hadapannya, itu pun jika pujian tersebut tidak pujian yang berlebihan. Bahkan jika pujian tersebut menimbulkan adanya maslahat, misalnya semakin semangatnya dia untuk berbuat kebaikan dan meningkatkan kebaikan, atau kontinyu dalam berbuat baik, supaya orang lain pun meneladani orang yang dipuji tersebut, maka (jika ada maslahat semacam ini) hukumnya dianjurkan. Wallahu a’lam.” (al- Imam al-Nawawi al-Syafii, *Shahih Muslim Bi al-Syarh al-Nawawi*, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Juz 17, hal.99 )

Semoga Bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi*, 160902020