MUTIARA HIKMAH (23) MENGENAL SOSOK KETUA YAYASAN MI’RAJUSH SHIBYAN NW JAKARTA, DRS. TGKH. M. SUHAIDI, SQ

banner post atas

Oleh : Marolah Abu Akrom

Salah seorang tokoh fenomenal yang sudah saya kenal lama adalah Drs. TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ. Beliau sampai saat ini menjabat sebagai ketua yayasan Mi’rajush Shibyan NW Jakarta. Saya mengenal beliau dari tahun 1992, ketika beliau menjemput saya untuk dapat mengabdi di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan (NW) Jakarta.

Ketika saya pertama kali bertemu di Lombok Timur pada waktu itu, kesan pertama yang saya dapatkan adalah beliau itu sangat santun dan memberi banyak motivasi, sehingga menambah keyakinan dan kemantapan saya untuk dapat berjuang mengabdikan diri di Ponpes NW Jakarta.

Iklan

Sebelum berangkat ke Jakarta, beliau mengajak saya untuk bertemu Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pendiri organisasi Nahdlatul Wathan. Yang hadir dalam pertemuan itu adalah saya, Ust. Ahmad Madani (salah seorang yang ikut mengabdi pula di Ponpes NW Jakarta). Juga hadir orangtua saya Ayahanda Amaq Mainah.

Dalam pertemuan tersebut beliau memohon doa restu kepada Maulana Syaikh agar keberangkatan saya dan Ust. Ahmad Madani ke Ponpes NW Jakarta lancar dan selamat, serta perjuangan selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT.

Saya melihat betapa beliau sangat dekat dengan Maulana Syaikh, berbicara banyak hal tentang perjuangan mengembangkan NW di ibu kota. Maklum pada waktu itu NW Jakarta masih dalam tahap merintis. Dan Maulana Syaikh sangat mensupport perjuangan beliau baik dengan dukungan moril maupun materil.

Setelah dirasa cukup, akhirnya beliau pamit kepada Maulana Syaikh. Sebelum berpamitan, Maulana Syaikh berpesan kepada kami pada waktu itu, agar mengamalkan tiga moto perjuangan yaitu yaqin, ikhlas dan istiqamah. Tidak lupa juga berpesan kepada kami agar selalu mengamalkan Shalawat Nahdhatain, agar perjuangan mengembangkan NW mendapatkan pertolongan, kemenangan dan kesuksesan dari Allah.

Setelah saya tiba di Jakarta, saya langsung mengabdikan diri mengajar dan membina anak-anak santri. Pada waktu itu lembaga yang sudah berdiri adalah Panti Asuhan, TPA dan TK.

Disela-sela pengabdian, ketika ada suatu kesempatan, ternyata beliau mengajak saya dan semua teman-teman seperjuangan untuk gotong royong menggali akar kayu dan bambu yang banyak terdapat dilingkungan pesantren, karena waktu itu masih banyak pohon bambu dan pohon lainnya yang membuat keadaan tidak nyaman.

Hal yang membuat saya kagum ternyata beliau langsung ikut kerja bakti walau kotor dan panas terik matahari. Sedikitpun beliau tidak pernah mengeluh dan selalu memberi semangat kepada kami, sehingga walaupun keadaan berat dan sulit, akhirnya semua akar pohon bambu dan pohon lainnya dapat digali dan dibersihkan dari lingkungan pondok pesantren.

Saya melihat proses pembangunan Ponpes NW Jakarta walau tertatih-tatih terus berlangsung tanpa pernah berhenti. Berawal mula dari waqaf beberapa meter tanah dari salah seorang jamaah, dibangunlah majlis ta’lim untuk kaum bapak, ibu dan anak-anak. Seiring makin bertambahnya jumlah jamaah, maka diperluaslah pembangunan dengan swadaya jamaah dan masyarakat sekitar. Dibangun juga panti asuhan yatim dan dhu’afa, TPA dan TK.

Sejak itu terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu hingga berdirilah MD, SD, SMP dan SMA seperti sekarang ini. Dan saat ini luas tanah pondok pesantren sekitar 3500 meter.

Sekitar tahun 2007, saya bertanya kepada salah seorang tukang tetap yang bernama Pak Selamat yang memimpin langsung pembangunan di Ponpes NW Jakarta mulai dari SD, SMP sampai SMA. Saya bertanya kepada Pak Selamat, “Bagaimana pandangan bapak tentang Drs. TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ? Pak selamat dengan tegas menyatakan, “Beliau adalah orang keramat”. Saya kembali bertanya, mengapa bapak mengatakan beliau itu orang keramat? Pak selamat melanjutkan jawabannya, “Terus terang sejak saya jadi tukang di NW Jakata proses pembangunan tidak pernah berhenti. Saya heran uangnya kok tidak habis-habis, ini menunjukkan beliau orang keramat”. Demikian pengakuan jujur dari Pak Selamat seorang tukang (insinyur) senior yang sangat ahli dalam pembangunan.

Sebenarnya banyak hal yang luar biasa diluar jangkauan akal, saya dengar cerita dari beberapa jamaah tentang keistimewaan beliau. Saya hanya menyampaikan sekelumit saja sekedar sebagai contoh keistimewaan dan kelebihan yang Allah berikan kepada beliau. Agar kita banyak mengambil ilmu dan pengalaman dari beliau dalam berbagai disiplin ilmu yang beliau kuasai.

Saya banyak mengamati sepak terjang beliau baik dalam hal perjuangan mengurus pondok pesantren atau dalam hal membantu kepada sesama. Beliau itu sosok tokoh umat yang tidak banyak bicara. Beliau bicara sedikit saja, simple, tidak bertele-tele, tapi padat berisi penuh dengan hikmah yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Banyak orang datang kepada beliau mencari solusi mengatasi berbagai problema hidup, mulai dari pejabat, pengusaha, maupun dari orang-orang biasa. Ada yang usahanya bangkrut, ada yang sakit, ada yang ingin naik karirnya dan lain-lain. Semua beliau tolong dan ternyata alhamdulillah rata-rata tercapai apa yang mereka inginkan.

Dalam hal bagaimana mengatur strategi memajukan suatu organisasi sampai dalam hal masak-memasak, beliau ahlinya. Jika ada acara besar seperti haul Maulana Syaikh, beliaulah yang paling sibuk mengarahkan ibu-ibu agar dapat memasak dengan rasa yang sedap, lezat dan nikmat. Biasanya yang dimasak adalah ares dicampur daging sapi. Ares itu adalah bagian dalamnya kedebong pisang yang daunnya sangat lunak. Untuk acara haul bisa mencapai 1000 kedebong pisang ditambah menyembelih sapi antara dua hingga tiga ekor. Maklum tamu yang akan dijamu ribuan orang datang dari berbagai penjuru yang berasal dari daerah Jabodetabek.

Demikian juga dalam hal bercocok tanam, beliau pecinta tanam-tanaman. Kemampuan beliau menanam tidak diragukan lagi. Pernah suatu waktu beliau mencanangkan menanam sejuta pohon NW, yaitu menanam pohon mahoni diberbagai tempat yang dibutuhkan. Beliau membagi-bagikan secara gratis kepada siapapun yang membutuhkan bibit pohon mahoni untuk ditanam di wilayah masing-masing dengan catatan memberi nama pohon tersebut dengan pohon mahoni Nahdlatul Wathan.

Di Ponpes NW Jakarta dan Ponpes NW Gabus Bekasi yang beliau pimpin, sukses menanam berbagai pohon diantaranya mahoni dan mempercantik lingkungan ponpes dengan berbagai tanaman hias. Juga sukses membudidayakan kangkung yang berbeda dengan jenis kangkung pada umumnya. Dimana bibitnya sendiri dulunya dibawa dari Lombok NTB. Dan sekarang hasil panen kangkung setiap minggu dikirim ke restaurant Taliwang yang ada di Jabotabek untuk diolah menjadi plecing kangkung ala Lombok.

Dibidang peternakan beliau juga membudidayakan bebek, lele dan kambing. Alhamdulillah beliau berhasil melakukan itu semua dengan memperkerjakan para santri dan alumni sebagai proses pembelajaran untuk melatih kemandirian demi menghadapi masa depan yang penuh tantangan.

Demikian sekilas pengetahuan mengenal sosok tokoh fenomenal dari Drs. TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ. Mudah-mudahan dilain waktu kita dapat menggali lebih banyak lagi tentang keistimewaan beliau, sehingga dapat menjadi sumber inspirasi untuk dijadikan teladan bagi umat/generasi masa kini dan umat/generasi berikutnya.

Bekasi, 27 Sya’ban 1441 H/20 April 2020 M