Menyambung Rambut Untuk Wanita, Gimana Hukumnya yaa?

banner post atas

Menyambung rambut

Oleh : Azmatul Kholila
Mahasiswi semester 4 VII Al- Aqidah Al- Hasyimmiyyah Jakarta

Di sebutkan dalam sebuah hadis, dari Muawiyyah bin Abi sufyan ra. “ siapapun perempuan yang menambah kepalanya dengan rambut yang bukan rambutnya (Wig), sungguh itu merupakan suatu kebohongan (zur) yang di tambahkan di kepala. (H.R> al-Bukhary)

Iklan

Riwayat lain di sampaikan oleh asma’ binti Abu Bakar rah, yang di riwayatkan pula oleh Al-Bukhari : “ fatimah Binti al mundzir berkata saya telah mendengar Asma’ binti Abu Bakar berkata: ada seorang perempuan menemui Rasulullah lalu bertanya “ aku telah menikahkan anak perempuan ku. Ia kemudian terkena penyakit hingga rambutnya rontok, suaminya lantas meminta aku untuk menyambungnya, bolehkan aku menyambung rambutnya dengan rambut lain? “ Beliau Bersabda “ Allaah melaknat penyambung rambut dan yang meminta di sambung” . (H.R. al-Bukhari)

Jadi, baik dengan alasan penyakit atau untuk menyenangkan suami, memakai rambut palsu tetap tidak di bolehkan. Hal ini berkonotasi setiap pemalsuan terhadap ciptaan Allaah adalah di larang. Adapun jika menyambungnya dengan selain rambut, dan penyambungnya tidak samar , atau bagi orang yang melihatnya bisa mengetahui kalau itu bukanlah rambut, maka dalam hal ini menurut syaikh muhammad al-syarif ada 2 pendapat ulama :
Pendapat pertama menyatakan bahwa hukumnya tidak boleh, dan pendapat yang kedua mengatakan hukumnya boleh.

Adapun hukum menggunakan rambut palsu menurut ulama madzhab jika menggunakan rambut palsu bukan dengan Rambut manusia, sebagai berikut:

1) Mazhab hanafi berpendapat bahwa menyambung dengan selain rambut manusia seperti menyambung denganWoll, buku domba, bulu kambing atau potongan kain itu hukumnya mubah, karena perbuatan tersebut tidak mengandung unsurnmempergunakan anggota tubuh manusi, sebab menurut mereka alasan diharamkannya adalah penipuan dan mempergunakan anggota tubuh manusia. Dalam Hasyiyah Ibnu Abidin disebutkan “ keringanan hukum hanya berlaku pada selain rambut manusia yang di tambahi wanita untuk menambah gulungan rambutnya. keputusan ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Yusuf”. Dalam kitab Khaniyah di sebutkan, “ tidak mengapa menggunakan sesuatu dari bulu pada gulungan rambut atau jambul rambut” Laits bin Sa’d juga berpendapat demikian, oleh karena itu, dia membolehkan menyambung rambut dengan bulu, potongan kain dan segala sesuatunselain rambut manusia.

BACA JUGA  Workshop Khotib Moderat 2021 : Penguatan Literasi Moderasi Islam Melalui Khotib Jum’at

2) Mazhab Maliki, Mazhab Zahiri, dan Muhammad Bin Jarir Ay-Thabari berpendapat bahwa menyambung atau menggunakan rambut selain rambut manusia termasuk bulu hewan atau bulu domba itu hukumnya haram. Imam Malik berkata, “ tidak pantas seorang wanita menyambung rambutnya dengan rambut lainnya.” Mereka berdalih dengan keumuman hadis yang telah lewat, juga berdalil dengan kehususan hadis Jabir: “ Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang wanita menyambung rambutnya dengan sesuatu apapun.” Memperbanyak rambut dengan benda apapun merupakan perbuatan yang mengandung unsur penipuan, penyamaran dan merubah ciptaan Allah.

3) Mazhab Syafi’i memberikan perincian dalam hal menyambung rambut dengan selain rambut manusia, mereka mengatakan: “seorang wanita yang menyambung rambutnya dengan selain rambut manusia bisa saja sambungan tersebut suci atau najis.” Jika najis seperti bulu bangkai atau bulu binatang yang tidak boleh di makan dagingnya dan hidup di dua alam maka sambungan tersebut haram, sebab pemakaian barang najis, baik dalam shalat atau di luar shalat hukumnya haram. Jika sambungan tersebut suci maka perlu di tinjau. Jika wanita yang di sambungkan rambutnya tersebut belum bersuami, maka menyambung dengan sambungan tersebut haram, ini ketetapan Ad-Darimi, Ath-Tahyyib, Al-Baghawi dan Al-ya’qubi. Akan tetapi jika ia bersuami maka ada 3 pendapat: pertama boleh apabila telah mendapat izin dari suaminya, kedua haram menyambung secara mutlak, artinya meskipun si suami sudah memberi izin, ketiga boleh secara mutlak, maksudanya walaupun si suami tidak mengizinkan. Dan pendapat yang pertama lebih benar menurut syafi’i.

4) Mazhab Hambali berpendapat bahwa menyambung rambut dengan selainnya, baik dengan bulu atau yang lain : pertama bila dengan bulu seperti bulu domba maka haram sebagaimana haramnya menyambung dengan rambut manusia karena keumuman hadis dan karena adanya unsur penipuan. Kedua jika seorang wanita menyambung rambutnya dengan bulu binatang maka tidak dibenarkan. Shalatnya tidak sah apabila bulu tersebut najis, karena ia mampu untuk menghindarinya, tapi apabila suci maka shalatnya sah. Ketiga jika menyambung rambut dengan selainnya dengan tujuan untuk menali dan mengikat rambut, maka tidak mengapa, sebab itu sebuah kebutuhan yang tidak bisa dilakukan kecuali dengannya. Keempat bila tidak untuk keperluan, maka ada dua riwayat yang membahas tentang hal itu : makruh dan haram.

BACA JUGA  7 Nama, Tingkatan, dan Penghuni Neraka