Melihat NW dari Personal

Melihat NW dari Personal

Oleh Zulkarnaen

Bagi Alexa, apa yang disampaikan TGB soal HRS baru-baru ini adalah sesuatu yang bisa ditarik dalam konteks NW juga. Jadi tidak boleh kita kerucutkan NW pada personal orang; jika kita gak ikut orang itu, maka ke-NW-an kita kurang.

Sebagaimana Islam adalah Rosulullah, maka NW adalah Maulanasyeikh–mungkin analogi saya agak menyamakan gitu, tapi semata untuk mendekatkan pemahaman. Saya teringat dengan analogi Maulanasyeikh yang bagi banyak orang merupakan analogi yang liberal. Maulanasyeikh pernah mengatakan kedudukan Pancasila dalam bernegara sama kedudukannya dengan Qur’an & Hadits dalam beragama. Ini disampaikan dulu sekali; saya sebut dulu sekali karena isu bangsa kita hari masih soal kebangsaan; soal Pancasila. Bagi banyak orang pun hari ini dianggap liberal. Ini hanya analogi, soal pandangan yang lebih luas terhadap negara, banyak tercecer di karya-karyanya.

Sehingga wajar kemudian, banyak jama’ah NW yang mengatakan mereka tidak NW Pancor atau Anjani, tapi NW Maulanasyeikh. Banyak juga, ponpes atau madrasah secara resmi tidak berafiliasi ke Pancor atau Anjani, karena alasan ini. Saya banyak menemukan generasi pertama yang mengatakan hal ini soal NW Maulanasyeikh.

Selain itu, ada fakta jama’ah yang memilih keluar dari NW karena merasa risih terhadap prilaku elit politik NW. Tak hanya jama’ah di akar rumput, fakta seperti ini juga terjadi pada kader-kader mudanya; politik praktis NW sudah menjadi hal yang biasa untuk ribut di internal dan merupakan rahasia umum menjadi satu penyebabnya–saya anggap anda paham maksud saya, karena efek politik selalu begitu di negara ini. Melihat NW pada Maulansyeikh kemudian semacam menjadi obat penawar dari kegalauan jama’ah NW atau jalan tengah.
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apa yang dimaksud dari NW Maulanasyeikh atau Islam Rosulullah. Pertanyaan ini menjadi bagus disebabkan karena baik Maulanasyeikh dan Rosulullah sudah wafat.

BACA JUGA  Mengapa Sang Ibu Jari Menangis ?

Konteks yang saya maksudkan adalah sebagaimana sahabat Rosulullah dahulu ketika ada masalah mereka langsung bertanya kepada Rasulullah dan selesai oleh Rosulullah. Lalu bagaimana setelah wafat? Kemana! Begitupun dengan NW! Maulanasyeikh sudah wafat! Kemana kita bertanya soal permasalahan NW hari ini ? Mungkin saya dan anda berpikir merujuk ke wasiat Maulanasyeikh.

BACA JUGA  Wapres Himbau Masyarakat Rayakan Idul Fitri Dirumah Saja

Namun sebelum itu, ada yang menarik dari cerita wafatnya Rosulullah; menarik dalam arti konteks ini. Bahwa menurut literatur, sahabat, Umar mengatakan barang siapa mengatakan Nabi meninggal, akan ku tebas lehernya; kalau tidak salah sahabat, Umar menyebut Nabi pergi bertapa sebagaimana Nabi Musa pernah melakukan itu.

Saat itu, kondisinya para sahabat rata menangis atas kepergian Nabi SAW. Kemudian datanglah sahabat, Abu Bakar RA di tengah kerumunan itu, lalu melakukan semacam pidato. Ia mengutip ayat ke-144 dari surat Ali-Imron. Kurang lebih terjemahan bebasnya adalah “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.

Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. Menurut penjelasan ulama’ bahwa ada perbedaan melihat Islam dari personal atau dari nilainya yang hidup sepanjang Zaman; Umar sebagai simbol melihat Islam dari personal yang sedang Abu Bakar sebagai simbol melihat Islam dari nilainya yang tetap hidup sepanjang zaman dan relevan.

Bisa kita tarik kemudian pemaknaan NW Maulansyeikh adalah jama’ah yang melihat NW pada nilainya yang ditinggalkan oleh Maulansyeikh baik melalui wasiat dan lain seterusnya. Nilai-nilai tersebut bisa digali oleh generasi hari ini. Meminjam apa yang disebut oleh TGB sebagai sesuatu yang universal; menggali nilai-nilai universal. Saya kemudian lebih suka menyebut ini sebagai NW nilai.

BACA JUGA  SYAIR INSPIRATIF (110) PESANTREN NURUL HARAMAIN NW BOGOR TERUS BERKARYA

Inilah yang menjadi jawaban yang diberikan kepada kader yang galau-galau itu; melihat NW dari nilai-nilai yang ditinggalkan Maulanasyeikh bukan berpihak pada personalnya yang secara pasti berimplikasi pada anda itu kubu sana atau kubu sini. Untuk konteks yang lain, ada kondisi dimana kita harus memilih salah satu; Pancor atau Anjani. Ini akan dibahas di tulisan lain.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA