Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 9) Landasan Tentang Kewalian

banner post atas

Dalam al-Qur`an al-Karim, kata wali (al-Waliy) dengan berbagai bentuk derivasinya, setidaknya terdapat sebanyak 227 (Dua Ratus Dua Puluh Tujuh) kali. Dari sejumlah kata wali dalam al-Qur`an ini, tentunya memiliki berbagai makna, baik positif dan bisa juga dengan makna yang negatif.

Berikut ini, diantara ayat-ayat al-Qur`an al-Karim dan juga dari hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam yang langsung bersinggungan dengan keberadaan wali Allah Subhanallahu wa Ta’ala tersebut adalah QS.Yunus [10]:62-64 berikut ini:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ .الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ . لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Iklan

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”(QS.Yunus [10]:62-64)

Sementara diantara Hadits al-Syarif yang menjelaskan keberadaan wali Allah, antara lain terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bazzar yang bersumber dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, disebutkan;  

قَالَ رَجُلٌ: يَارَسُوْلَ للهِ مَنْ اَوْلِيَاءُ اللهِ ؟ قَالَ: الَّذِيْنَ اِذَا رُؤُوْا ذُكِرَاللهُ (رواه البذار)

“Seseorang bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah wali-wali Allah itu?’Beliau bersabda,’Yaitu orang-orang yang bila kalian lihat, mereka senantiasa menyebut nama Allah.” (HR.Al-Badzaar)

Dalam Hadits al-Syarif lainnya, disebutkan sebagaimana berikut ini;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ للهِ صَلَّ للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ مِنْ عِبّادّاللهِ عِبَادًا يَغْبِطُهُمْ اْلاَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ،قِيِلَ مَنْ هُمْ : يَارَسُوْلَ للهِ لَعَلَّنَا نُحِبُّهُمْ؟ قَالَ: هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوْا فِي اللهِ مِنْ غَيْرِ أمْوَالٍ وَلاَ أنْسَابٍ، وُجُوْهُهُمْ نُوْرٌ عَلَي مَنَابِرٍ مِنْ نُوْرٍ لاَيَخَافُوْنَ اِذَاخَافَ النَّاسُ وَلاَيَحْزَنُوْنَ اِذَا حَزِنَ النَّاسُ ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ اْلاَيَةَ: أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (رواه ابن جرير)

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, bahwasannya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada hamba yang dicintai oleh para nabi dan syuhada.” Beliau ditanya,”Siapakah mereka wahai Rasulullah, agar kami dapat mencintai mereka?” Beliau bersabda,”Merka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, bukan karena harta dan keturunan. Wajah mereka laksana cahaya di tempat yang tinggi. Mereka tidak takut saat manusia merasa takut. Mereka tidak bersedih saat manusia merasa bersedih.” Kemudian beliau membaca firman Allah, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (HR.Ibn Jarir)

BACA JUGA  Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 19) Menelusuri Jejak Kewalian Sulthanul Aulia Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Dalam Hadits al-Syarif yang diriwayatkan oleh Ubadah bin ash-Shamit, Nabi Shallaahu `alaihi wa sallam bersabda;
إِنَّ اللهَ تَعَلَي قَالَ: مَنْ عَادَ لِيْ وَلِيًّا، فَقَدْ آذَنْتُهُ بِاْلحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ اَحَبَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ،وَمَايَزَالُ عِنْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّي أُحِبَّهُ، فِإِذَا اَحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُبِهِ
وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأَعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لَأُعِيْذَنَّهُ (رواه البخاري)

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,’Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku memaklumatkan perang padanya. Tidak ada sesuatu yang lebih aku sukai dari hamba-Ku yang mendekat kepada-Ku selain dari apa yang telah Aku wajibkan padanya. Dan hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan nafil (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya untuk mendengar, menjadi matanya untuk melihat, menjadi tangannya untuk memukul, dan menjadi kakinya untuk berjalan. Bila ia meminta (sesuatu) kepada-Ku, Aku pasti akan memberinya; dan bila ia meminta perlindungan-Ku, Aku pasti akan melindunginya.”