Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 2) Masalah Kewalian

Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 2) Masalah Kewalian

Secara etimologi, kata Wali Allah dapat memiliki arti, ‘Teman atau Allah’ atau orang suci kekasih Allah Subhanahu wa ta`ala. Dan dalam bahasa Inggris, dikenal dengan istilah God`s Guardian. Dalam pengertian secara umum- menurut syariat, definisi Wali Allah adalah seseorang yang memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama yang tidak akan dicapai, kecuali oleh orang-orang yang melaksanakan tuntunan agama, baik secara lahir maupun bathin.

Adapun secara terminologi, pemaknaan Wali Allah terdapat beberapa pandangan dari para ulama. Sebagaimana dalam pandangan al-Imam al-Qusyairi misalnya, difenisi wali Allah itu mengandung dua makna, yaitu orang-orang yang terus menerus dalam taat kepada Allah Subhanahu wa ta`ala dan orang-orang yang menjadikan Allah sebagai pelindung dan penjaganya.”. Sementara itu, al-Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani dalam kitabnya, “Jami` Karaamati al-Auliya”, menyimpulkan bahwa makna Wali itu mempunyai arti ganda juga, yaitu; orang-orang yang senantiasa melakukan taat kepada Allah tanpa diselingi dengan perbuatan makshiat (dosa), orang yang mendapatkan kebenaran dan perlindungan dari segenap kemakshiatan serta senantiasa dalam bimbingan dan taufiq Allah Subhanahu wa ta`ala.

Sementara menurut al-Imam Al-Baidhawi dalam Tafsirnya berkata: “Wali Allah adalah orang-orang yang mewujudkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta`ala dan orang-orang yang diberikan segala bentuk karomah.” Dan dalam pendapatnya al-Imam ath-Thabari, ia mengatakan: “Wali Allah adalah orang yang memiliki sifat seperti yang telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta`ala, yaitu beriman dan bertakwa.”

Memerhatikan beberapa definisi diatas, maka pada intinya wali Allah itu adalah orang-orang yang selalu sibuk dengan Allah. Keberadaan mereka itu tidak pernah mengalihkan pandangannya, kecuali selalu lari menuju pada-Nya. Dan mereka itu tidak pernah takut, kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa ta`ala semata.

Di antara ayat-ayat al-Qur`an al-Karim dan hadits al-Syarif yang langsung bersinggungan dengan keberadaan wali Allah, antara lain adalah QS.Yunus [10]:62-64 berikut ini:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ . لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan) akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”(QS.Yunus [10]:62-64).

Sementara itu, diantara hadits Nabi Shalallaahu `alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang kewalian, salah satunya terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bazzar yang bersumber dari shahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, sebagai berikut;

قَالَ رَجُلٌ: يَارَسُوْلَ للهِ مَنْ اَوْلِيَاءُ اللهِ ؟ قَالَ: الَّذِيْنَ اِذَا رُؤُوْا ذُكِرَاللهُ (رواه البذار)
“Seseorang bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah wali-wali Allah itu?’Beliau bersabda,’Yaitu orang-orang yang bila kalian lihat, mereka senantiasa menyebut nama Allah.” (HR.Al-Badzaar)
Selain itu, dalam Hadits al-Syarif yang diriwayatkan oleh Ubadah bin ash-Shamit, Nabi Shallaahu `alaihi wa sallam bersabda;
إِنَّ اللهَ تَعَلَي قَالَ: مَنْ عَادَ لِيْ وَلِيًّا، فَقَدْ آذَنْتُهُ بِاْلحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ اَحَبَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ،وَمَايَزَالُ عِنْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّي أُحِبَّهُ، فِإِذَا اَحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُبِهِ
وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأَعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لَأُعِيْذَنَّهُ (رواه البخاري)

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;”Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku memaklumatkan perang padanya. Tidak ada sesuatu yang lebih aku sukai dari hamba-Ku yang mendekat kepada-Ku selain dari apa yang telah Aku wajibkan padanya. Dan hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan nafil (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya untuk mendengar, menjadi matanya untuk melihat, menjadi tangannya untuk memukul, dan menjadi kakinya untuk berjalan. Bila ia meminta (sesuatu) kepada-Ku, Aku pasti akan memberinya; dan bila ia meminta perlindungan-Ku, Aku pasti akan melindunginya.” (HR. Bukhari).

Mengenai kedudukan seorang wali Allah, betul-betul merupakan hak prerogatif Allah Subhanahu wa ta`ala an sich, yang diberikan kepada orang-orang yang telah nyata keimanan dan ketaqwaannya. Sementara terhadap orang-orang yang nyata telah melanggar syariat atau peraturan-Nya, maka tentu kedudukan yang mulia ini menjadi hal yang mustahil baginya. Namun demikian, patut disayangkan, berapa banyak di kalangan manusia yang sempat terkecoh, ketika melihat ada orang yang mengaku bahwa dirinya adalah wali dan memperoleh karomah dari Allah. Padahal, dalam kehidupan sehari-harinya tidak melaksanakan Syariat Islam dengan baik dan benar, seperti tidak shalat, tidak puasa dan lainnya. Model manusia seperti ini, patut diwaspadai juga, karena ternyata syaitanpun dapat membantu manusia untuk mewujudkan keajaiban-keajaiban di mata manusia itu sendiri. Dan model inilah yang kemudian dikenal dengan istilah sihir. Dalam konteks ini, syaitan sangat cerdas dalam membantu seseorang agar dapat menghilangkan dirinya dari pandangan orang lain dan juga memberi maklumat kejadian yang akan datang.

Seseorang yang telah sampai ke puncak pengahayatan makrifat pada zat Allah Subhanahu wa ta`ala tersebut, maka ia akan akan memperoleh sesuatu yang kemudian dikenal dengan istilah ilmu al-Ladunni atau ilmu mukasyafah (mampu melihat dengan mata hati) yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta`ala. Makna mukasyafah atau Kasyaf lebih detailnya lagi adalah terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Zat Allah. Terbukanya hijab tersebut bagi kekasih-Nya adalah untuk mereka dapat melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal yang ghaib.

BACA JUGA  Dr.(HC) Alim Markus dan Gubernur NTB. Resmikan Bangunan Madrasyah Hikmatusysyarief NW Narmada.

Al-Mukasyafah seorang hamba terjadi, tentunya dengan proses mujahadah, pembersihan dan pensucian hati untuk terpancarnya cahaya (an-Nur) dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib dan bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah Subhanahu wa ta`ala, para Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk Nabi Khidhir `alaihissalam. Dan tidaklah bisa diraih ilmu satu ini, kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat yang didapatkan melalui latihan (al-Riyadhah) dengan amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu. Terkai hal ini, para tokoh sufi-supi kawakan, seperti al-Syaikh Al-Junaidi, al-Imam Abu Yazid Al-Busthami, al-Syaikh Ibnu Arabi, al-Imam Al-Ghazali dan masih banyak lagi yang lainnya, telah memproklamirkan keistimewaan ilmu al-Ladunni. Dan mereka menyebutnya sebagai ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Untuk al-Imam al-Ghazali sendiri menyebut Ilmu al-Ladunni itu dengan ilmu Ilhamiyyah dan hal ini untuk membedakannya dengan ilmu Taklimiyyah, yaitu ilmu yang dipelajari pada seorang guru atau ilmuan.

BACA JUGA  Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 11) Sifat Wali Allah dan Wali Syetan

Dalam bahasa sederhananya ilmu al-Ladunni itu adalah ilmu ghaib ( occult sciences) sebagai sebuah kebanggaan kaum Sufi yang mereka jadikan sebagai suatu yang bersifat luar biasa (khariqu al-`adah) yang dikenal dengan karomah yang sejenis dengan mukjizatnya para nabi dan rasul. Dan untuk para Sufi yang menguasai ilmu ghaib dan mendapatkan karomah tersebut, maka mereka inilah kemudian dikenal dengan istilah wali Allah Subhanahu wa ta`ala, yakni orang suci sebagai kekasihnya Allah Subhaanahu wa ta`aala ( the saint).
Berdasarkan pemahaman diatas inilah, maka Wali Allah Subhanahu wa Ta’ala pada seorang hamba adalah dengan memberinya petunjuk untuk beriman kepada-Nya, juga untuk lebih mengenal-Nya, menaati, mencintai dan membela agama-Nya, sehingga seorang hamba dapat melakukan hal itu semua. Dan mereka senantiasa berusaha mendekati-Nya, hingga Allah Subhanahu wa ta`ala mencintai-Nya pula. Dan jika Allah mencintainya, maka ia akan mendekat kepadanya, memudahkan segala urusannya, memberikan pertolongan dan melindunginya. Dengan deskripsi seperti ini, maka kita dapat mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa ta`ala telah menjadi wali baginya, sebagaimana dalam firman-Nya;
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ
“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syetan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran)”. (QS.Al-Baqarah (2):257)

Perwalian seorang hamba kepada Rabb yang Maha Suci dan Maha Tinggi adalah dengan mengimani-Nya, bertakwa, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan penuh ketaatan. Melaksanakan apa yang dicintai-Nya dan menjauhi apa yang dibenci-Nya. Menolong siapa yang diberikan-Nya pertolongan, memusuhi siapa yang dimusuhi-Nya, menolong orang yang menolong agama-Nya dan para wali-Nya. Jika hal itu telah terwujud, maka tentu ia telah menjadi seorang wali bagi Allah Subhanahu wa ta`ala.

Dalam konteks ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ. لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS.Yunus (10):62-64)

Dengan demikian, dapat kita katakan pula bahwa keberadaan Wali Allah itu seolah mempunyai kedudukan yang hampir sama, seperti kedudukan yang diberikan kepada para Nabi dalam hal kesucian rohani, kedalaman ilmu dan ketaatannya kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. Oleh sebab itu, keberadaan para Wali itu di muka bumi ini adalah sebagai ”wakil-wakil” Nabi dalam melanjutkan estapet perjuangannya dalam upaya menyebarkan agama Allah, sehingga mereka inipun dikenal dengan istilah Quthb. Namun demikian, sebagai perbedaannya bahwa seorang Wali Allah yang disebut Quthb itu memperoleh ilmu melalui ilham, sementara para Nabi memperoleh ilmu dengan perantaraan wahyu.
Dan kewalian itu merupakan prinsip dasar dari jalan Tasawuf. Seperti dikatakan oleh Al-Hujwiri, “Ketahuilah bahwa prinsip dan landasan Tasawuf serta makrifat adalah bertumpu pada kewalian.” Wali-wali Allah (awliya Allah) adalah orang-orang suci yang telah diberkati oleh Allah dan diangkat menjadi “sahabat-Nya”. Mereka adalah orang-orang yang telah mencapai penglihatan batin (al-Mukasyafah) yang benar.

Suatu hal penting sebagai syarat utama yang harus melekat pada diri seseorang yang disebut sebagai Wali Allah adalah seorang mukmin yang takwa. Sehingga ada ungkapan dari sebagian ulama yang menyebutkan bahwa; “Kullu mu’minin taqiyyin fa huwa waliyullah” (setiap mukmin yang bertakwa adalah Wali Allah). Namun demikian, tentunya perlu kita garisbawahi bahwa mukmin di sini adalah dalam pengertian yang “sempurna”. Kata wali dalam konteks ini adalah mengandung makna mubalaghah (sangat menekankan), yakni seorang mukmin yang betul-betul taat. Mukmin yang sesungguhnya selalu mendasarkan perilakunya pada Al-Quran dan Sunnah Nabi. Karenanya, seperti dinyatakan oleh Dzun Nun Al-Mishri, “Al-Quran sudah bercampur dengan darah dan daging mereka,” yang mengingatkan kita pada perkataan Aisyah, istri Nabi, bahwa “Akhlak Nabi Shallallaahu`alaihi wa sallam adalah Al-Quran.” Dalam istilah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, “Kewalian adalah bayangan dari fungsi kenabian (Zill al-Nubuwwah), sebagaimana kenabian adalah bayangan dari fungsi ketuhanan.” Mukmin sejati akan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya (hakikatnya) bukan sebagaimana yang dipikirkan, sebab mereka itu melihat dengan Nur Allah (al-Mu’minu yandzuru bi Nuurillahi ta’ala).

BACA JUGA  Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 3 ) Masalah Karomah

Seseorang yang telah disebut Wali, maka tentunya mereka adalah orang yang beriman lagi bertakwa, tetapi ia bukan seorang nabi. Namun demikian, setiap para Nabi merupakan seseorang yang beriman lagi bertaqwa kepada Allah, sehingga mereka pun disebut wali Allah. Dan bahkan ulama menyebutkan bahwa wali Allah yang paling utama adalah para Nabi. Lalu, wali Allah yang paling utama di antara para Nabi adalah para Rasul. Sementara untuk wali Allah yang paling utama di antara para rasul adalah para rasul yang masuk dalam sebutan Ulul ‘Azmi. Sedangkan wali Allah yang paling utama dari antara Ulul ‘Azmi tersebut adalah baginda Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa Sallam. Dengan demikian, para wali Allah tersebut memiliki perbedaan dalam tingkat keimanan mereka, sebagaimana mereka memiliki tingkat yang berbeda pula dalam kedekatan mereka dengan Allah Subhanahu wa ta`ala.

Dalam pemahaman masyarakat awam, sepertinya sering kali keliru dalam memahami seseorang yang disebut sebagai wali. Dimana, setiap orang muslim yang memeliki kelebihan atau mungkin semacam keanehan, maka dengan gampang sekali mereka menyebutnya sebagai seseorang yang memiliki predikat wali. Padahal, ketika dilihat dari sisi ketaqwaannya belum bisa dipertanggung jawabkan. 

Oleh sebab itu, seseorang yang disebut wali itu adalah keniscayaannya dalam soal taqwa. Dalam syarat taqwa di sini juga, tentunya dalam pengertian yang hakiki. Dalam bahasanya al-Qur`an al-Karim yang tertera dalam Surah Ali Imran (3) ayat 102 adalah haqqa tuqatihi, yakni sebenar-benar taqwa. Dan taqwa di sinipun mengandung dua aspek, yakni ada aspek lahir dan aspek bathin. Sebagai aspek lahirnya, taqwa adalah pelaksanaan syariat agama. Sementara sebagai aspek batinnya adalah niat yang suci atau dalam bahasa keseharian kita dalam ibadah adalah lillahi ta’ala dan mujahadah. Jika seseorang sudah mencapai takwa yang hakiki ini barulah dia bisa disebut mukmin yang sejati. Dan bagi mukmin yang sejati itulah tempat melekatnya sebutan sebagai Wali Allah.

BACA JUGA  Maulana Syaikh Ulama Penyusun Tarekat Mu`tabarah

Dan orang yang mukmin yang paling bertaqwa bisa dipastikan paling mulia kedudukannya, sebagaimana firman Allah yang tertuang dalam al-Qur`an Surah Al-Hujurat (49) ayat 13 yang menyebutkan; Inna akramakum ‘inda Allahi atqakum—”Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”

Para wali Allah itu adalah orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta`ala. Mereka dapat disebut sebagai para “pejabat istana Tuhan”. Dan pada tingkat inilah mereka akan dilindungi oleh Allah. Dalam pemkanaan seperti ini, maka kita memberikan makna kedua dari kata “wali,” yakni “yang dilindungi atau dijaga”. Sebagaimana dalam Al-Quran, Surah Al-A’raf (7): 196, disebutkan, “Dan Dia Allah melindungi (yatawalla) orang-orang yang shalih.”

Namun demikian, setiap kali orang berbicara tentang Wali, terkadang sering kali muncul suatu kesulitan dalam memastikan keberadaannya sebagai seorang wali. Hal inipun selalu kembali pada pernyataan yang sudah masyhur dalam tradisi Tasawuf bahwa “Hanya Wali Allah yang mengenal Wali Allah.” Dengan demikian, sepertinya bisa dikatakan bahwa tidak mungkin orang awam mengenal Wali Allah. Tetapi, dalam kenyataannya, selalu ada kabar tersiar bahwa Syekh ini adalah Wali, Syekh itu adalah Wali; atau Syekh itu adalah Wali Quthb, Wali Abdal, dan seterusnya. Orang bisa mengatakan bahwa seseorang mengetahui bahwa Syekh A adalah Wali, lantaran Wali itu sendiri yang memberitahukan kewaliannya. Tetapi persoalan apakah seorang Wali mengetahui bahwa dirinya adalah Wali masih merupakan perdebatan di kalangan Sufi. Hanya saja perdebatan ini kurang signifikan, sebab argumentasi yang dipakai dalam soal ini didasarkan pada perbedaan perspektif dan pengalaman masing-masing sufi.
Dan hal yang paling lazim adalah seseorang atau orang-orang awam mengetahui kewalian, karena ada Wali lain yang sudah masyhur mengatakan bahwa Syekh A adalah seorang Wali Allah. Oleh sebab itu, bukan sesuatu yang aneh, jika para Wali saling menyebut sesama Walinya dan mengabarkannya kepada masyarakat, secara umum. Sebagai contoh, al-Syaikh al-Akbar Ibnu ‘Arabi, mengabarkan kepada kita tentang banyak Wali Allah, yang sebagian adalah guru-gurunya, melalui salah satu risalahnya, Ruh al-Quds.

Dalam konteks ini, pernyataan tersebut di atas akan lebih baik dipahami sebagai “hanya Wali yang mengenal kedudukan Wali.” Kedudukan ini lebih bersifat spiritual, dan karenanya dibutuhkan perspektif spiritual (al-Kasyaf) pula untuk mengetahuinya. Misalnya, kita mengenal “Wali Songo,” dan disepakati oleh sebagian masyarakat awam bahwa mereka memang benar-benar Wali Allah. Tetapi, orang-orang awam tak mungkin mengetahui dari sembilan Wali itu mana yang memiliki peringkat lebih tinggi. Bagi kita, orang awam, tidak tahu apakah salah satu dari Wali-wali itu ada yang memiliki kedudukan Quthb, Autad, atau Abdal. Namun demikian, kita diberi tahu sendiri oleh para Wali. Bahkan orang awam kadang juga bingung sebab sering kali ada seorang Wali yang dikabarkan memiliki beberapa kedudukan berbeda. Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi menyebutkan bahwa ada satu jenis Wali yang maqamnya aneh dan membingungkan. Wali ini mengetahui semua detail alam. Karena sekaligus mengumpulkan beberapa kedudukan, Wali jenis ini sulit untuk diklasifikasikan ke dalam salah satu maqam Wali saja. Bisa jadi Wali ini Qutb, atau mungkin juga bukan, hanya Allah dan mereka yang diberi tahu oleh-Nya yang bisa mengenal dengan pasti kedudukannya. Wallaahu `alam.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA