HIKMAH DIBALIK CERPEN (3) Bila Masih Ada Umur Tidak Akan Mati Oleh : Abu Akrom

banner post atas

 

Salah satu hobi yang sangat saya gandrungi dari kecil adalah membaca Al Quran dengan model tilawah menggunakan lagu/irama sesuai dengan standar lagu arab yang telah disepakati oleh ulama qurra’ yaitu bayyati, shaba, hijaz, nahawand, rost, jiharka dan sika.

Karena saking kepinginnya bisa membaca Al Quran dengan tilawah, saya selalu latihan disetiap kesempatan yang memungkinlan, baik diwaktu siang maupun malam. Untuk lebih cepat dalam menguasai tilawah Al Quran saya berguru pada seorang guru yang bernama Ust. M. Ihsan di masjid Nurul Huda Dasan Bagek Belang tempat tinggalnya Kakak kandung saya Maryam bersama suaminya.

Iklan

Waktu itu jadwal belajar tilawah dua kali seminggu selama tiga tahun. Dengan sabar saya berjalan kaki yang jaraknya lumayan jauh menyusuri jalan sungai, kebun dan sawah. Saya berangkat dari rumah sebelum magrib agar tidak kemalaman, karena kalau sudah malam keadaan gelap, sepi dan angker lampupun tidak ada. Maklum yang namanya kampung masih suasana alami dengan keindahan alamnya yang masih asri. Setelah belajar tilawah saya selalu menginap di rumah kakak, karena tidak berani pulang dalam keadaan gelap gulita.

Sekitar tahun 1988 waktu itu saya masih sekolah di MTs NW Sikur, disuatu hari saya mau memetik buah kelapa muda sebagai obat membaguskan suara. Inipun sesuai anjuran guru saya Ust. M. Ihsan. Katanya, “kalau mau suaramu bagus, petik kelapa muda lalu malam hari air kelapa muda itu diembunkan, supaya tenggorokan lancar dan suara menjadi bagus (merdu). Pagi hari sebelum shalat subuh air kelapa yang sudah diembunkan diminum”. Demikian kurang lebih pesan sang guru pada waktu belajar tilawah.

Maka tanpa ragu dengan penuh semangat, saya memanjat pohon kelapa yang tingginya sekitar 6 meter yang ada di belakang rumah. Setelah sampai di atas rencana mau memilih buah kelapa yang paling muda. Lalu saya berpegangan pada salah satu tangkai daun kelapa tersebut. Entah kenapa tangkai daun kelapa tersebut terlepas/copot, sehingga dalam waktu yang cepat saya meluncur jatuh kebawah. Beruntungnya saya jatuh tidak sampai di tanah/selokan, malah jatuh diantara dahan pohon waru (bahasa Lombok) persis seperti menunggang sepeda motor. Alangkah bersyukurnya saya gara-gara nyangkut di dahan pohon waru, nyawa saya terselamatkan. Kalau tidak mungkin saya terluka parah yang menyebabkan cacat seumur hidup atau mati seketika saat itu juga.

BACA JUGA  SAUDARAKU, KENAPA DIRIMU...?? Oleh : Ustadz Najmi Umar Bakkar

Hikmah dari cerita ini, ternyata kalau masih ada umur, pasti akan hidup walaupun nyawa terancam entah karena sakit parah, dirampok, tejatuh dari tempat yang tinggi dan lain sebagainya. Maka mari kita bersyukur kepada Allah dengan nikmat hidup ini dan kita gunakan sebaik-baiknya untuk taat beribadah kepadaNya.

Bekasi, 22 Syawwal 1441 H/14 Juni 2020 M