Hasan Asy’ari : Wanita Pilihan Maulana

banner post atas

Aduh sayang
Kalau berjodoh hendaklah pilih
Yang tinggi moral, turunan bersih
Jangan semata memandang Gajih
Memandang Titel dan muka jernih

Tulisan ini dipersembahkan kepada generasi muda HIMMAH NW yang sedang bersiap mencari selimut hidup si tao ngentut. Basen ustaz Mahrudin, “ kapal kela’”, basen Ustaz Huda jek, “ goe maut”, ape-ape basen dengan, si pasti mewakili bahasa kebahagiaan atas lamunan sepanjang waktu. Tulisan ini sebenarnya telah diterbitkan dengan bahasa tempoe doloe, dan kembali dihadirkan dengan nuansa segar kembali, sesegar embun pagi di Ganang. Karena saya yakin, walaupun diucap berkali-kali, akan tetap sehangat nyerut kupi bedeng, tetap diminati selama hayat di kandung syahwat, Eee hayat.

Batur bajang, sang Maulana mengatakan Kalau berjodoh hendaklah pilih, Yang tinggi moral, turunan bersih. Kata kalau berjodoh mengindikasikan bahwa dalam kenyataan ada yang berjodoh dan tidak berjodoh. Saya pernah mendengar TG. Hudatullah, Rais Am Dewan Musytasyar mengatakan, “ jika laki jodohnya pasti ada, selama dia berkeinginan menikah. Berbeda dengan perempuan, jikapun dia berkinginan, lamun mame ndarak dateng ngendeng e jek, be ndek ne poyu so.” Pernyataan TG ini sebenarnya berdasarkan pada pemahaman bahwa memang, baik laki-laki dan perempuan tidak selalu mendapatkan jodoh di dunia ini. tapi, jikapun berjodoh maka pilihlah yang dikeriteriakan oleh Maulana.

Iklan

Pertama dan kedua, yang tinggi moral dan turunan bersih. Kriteria pertama menunjukkan kepada laki dan perempuan yang berakhlak mulia. Baik laki maupun perempuan diwajibkan melihat akhlak dari calon pasangannya. Akhlak dalam bait wasiat ini menunjuk kepada agama, karena akhlak itu agama dan terlalu sering isyarat yang menunjukkan bahwa akhlak itu agama. Saya menyontohkan dengan hadis nabi, “ saya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia” atau pernyataan siti Aisyah ketika ditanya tentang akhlak nabi, dia menjawab, “ akhlak nabi adalah Alqur’an.” Saya menyimpulkan, baik kebangkitan nabi dan alqur’an sebagai kalam Allah Swt. merupakan rujukan beragama setiap muslim. Memang, sedikit berbeda dengan pernyataan nabi dalam hadis, “ dinikahi wanita itu karena empat perkara; karena kecantikannya, kekayaannya, keturunannya dan agamanya. Pilihlah yang beragama, agar kalian bahagia.” Nabi dalam hadisnya menempatkan agama pada posisi terakhir, namun ada penekanan, sehingga seakan-akan yang terakhirlah yang menjadi utama. Saya merasa tidak ada perbedaan mengenai pemilihan kata beragama dan tinggi moralnya, karena itulah terjemahan agama dalam pandangan Maulana. selanjutnya turunan bersih. Saya memaknai turunan bersih dengan nasab atau keturunan pasangan. Keturunan dari setiap pasangan itu penting untuk diperhatikan. Dalam agama Islam, nasab itu menentukan keberagamaan seseorang. Islam sangat menghargai sebuah keyakinan, menghargai akhlak yang baik dan mulia dan menghargai keturunan manusia. Islam jelas tidak menginginkan hal-hal yang tidak baik akan terjadi dalam pasangan yang akan berumah tangga. Dalam tinjauan ahli geneologi, bahwa karakter seseorang tidak akan jauh dari karakter orang tuanya, atau asal usul keluarganya. Hal ini tidak asing, pada dasarnya Nabi juga pernah mengingatkan, “ pilihlah tempat menaruh sperma kalian, karena keringat itu mengalir ke bawah.” Dalam pepatah mengatakan, “ buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.” Nah, baik nabi maupun pepatah tadi menegaskan akan pengaruh dari sebuah keturunan terhadap kesuksesan berumah tangga.

BACA JUGA  Prof Dr H Harapandi : BERSEKOLAH

Ketiga dan keempat, Jangan semata memandang Gajih, Memandang Titel dan muka jernih. Saya memaknai gajih dalam wasiat ini dengan harta atau kekayaan. Imam Sufyan Sauri mengatakan, “ siapa saja yang menikahi perempuan karena hartanya, dia adalah pencuri.” Pernyaatan sang imam terlahir dari kesadaran akan kekuatan cinta melebihi kekuatan materi dalam mewujudkan mahligai rumah tangga. Apa yang dilakukan pasangan seharusnya tidak melihat embel-embel dari kekasihnya, karena itu adalah pasilitas yang pasti didapatkan dalam menjalani titah yang Maha Kuasa. Masihkah kita ragu akan sabda Nabi, “ nikahilah perempuan itu, karena mereka mendatangkan harta.” Selanjutnya memandang titel dan muka jernih. Rumah tangga hanya membutuhkan cinta, lainnya hanya pelengkap. Memandang titel hanya akan membangun kasta dalam mahligai cinta dan jelas itu tak akan membahagiakan. Akan ada keengganan, kesungkanan dan berujung pada sulitnya mendapatkan klimaks berhubungan(maaf…hahahahaha). Maaf so, lek kamar ndarak aran profesor atau doktor, sikat bae!!!.

Kelima, bermuka jernih. Muka jernih istilah dari kecantikan atau inges. Yang kelima ini juga penting, karena kecantikan dan ketampanan menentukan kenikmatan dalam menjalani sebuah hubungan. Laguan, cantik maupun gagah itu masalah khilafiah batur bajang. Istilah Agus Yusran, “ Cantik relatif, potoshop alternatif.”…ah, ada ada aza!

Aduh sayang
Karna banyak buktinya nyata
Kebanyakan hanya memandang harta
Memandang rupa memandang kasta
Akhirnya hina, Imannya buta

Nah, ketika kita hanya melihat harta, kecantikan dan kasta dari wanita yang akan dinikahi, maka akan berdampak patal. Maulana menyebutkan dampaknya dengan hina dan imannya buta. Kehinaan yang akan didapatkan terlihat dari kasus demi kasus yang menimpa keluarganya. Terlebih jika trend hidupnya haigh clas, maka iman pun akan banyak mengalami masalah, bisa berujung pada lelang iman. Kita bisa menyaksikan kehidupan para artis yang menikah bukan motif agama, karena popularitas, kelas, harta dan kecantikan berakhir pada sidang perceraian dan berumah di balik jeruji besi, lantaran korupsi. Kemudian, Imannya buta sebuah kiasan akan iman yang takbisa menuntun, mengarahkan, membimbing dan memberikan petunjuk kepada kebaikan. Batur bajang, Apalah arti dari harta melimpah, jika hanya akan menjadi tambahan bahan bakar neraka. Apalah arti kasta dan rupa, jika hanya akan menambah rasa malu di hadapan rabbul a’la. Jika kita sadar tentang tujuan berumah tangga adalah meraih sakinah, mawaddah warahmah, maka kejarlah wanita pilihan versi Maulana.

BACA JUGA  Kunjungan Abuya ke kota Lombok Nusa Tenggara Barat Awal Juli tahun 1986 silam.

Ciputat, 21 April 2015