Catatan Perjalanan : Tau Nahdlatul Wathan?

banner post atas

Oleh : Firman Sidik

Saya adalah orang yang tidak lahir dari keluarga Nahdlatul Wathan, bahkan saya di besarkan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Namun menurut cerita,kakek dan nenek saya sering ikut pengajian Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Karena, dimana ada pengajian, mereka selalu menyempatkan diri untuk ikut hadir. Mereka tidak memandang siapa yang memimpin pengajian tersebut.

Iklan

Saya Firman Siddik seorang pemuda kelahiran Anjani 21 tahun yang lalu. Meski begitu,saya baru mengenal dan tau pendiri NW ketika baru masuk kuliah dan itupun saya mantapkan pengetahuan saya dalam diskusi – diskusi organisasi dengan mahasiswa,saya masuk Himmah NW.

Ketika menjadi mahasiswa baru,saya selalu terkagum – kagum melihat dan mendengar rekan – rekan mahasiswa yang memimpin hiziban,membaca sholatun Nahdatain,membaca doa pusaka, memulai pembicaraan di atas mimbar dengan sholawat ummah dan tradisi – tradisi NW lainnya.

Bahkan, pengalaman saya ketika ikut kegiatan organisasi Himmah NW di IAIH NW Pancor yang merupakan badan otonom (Banom) NW, saya pernah merasakan kesedihan yang begitu mendalam melihat betapa luar biasanya mereka yang menyebarkan NW tanpa pamrih.

Dan hal itulah yang masih saya bawa hingga ke pulau Jawa yang notabenenya NU dan Muhammadiyah.
—-
Kami berangkat dari Lombok ke Surabaya pukul 13.30 WITA menggunakan pesawat air Asia dengan nomer penerbangannya QZ 640. Menurut informasi yang kami dapat, penerbangan akan memakan waktu satu jam.

Setelah sampai di bandara Juanda Surabaya pukul 13.30 WIB,kami langsung mencari angkutan dengan tujuan Bojonegoro. Perjalanan ke Bojonegoro memakan waktu 7 jam. Karena selain macet,kami juga sering berhenti untuk beristirahat. Baru,pada pukul 19. 53 kami sampai di Bojonegoro dan berhenti di hotel Nirwan.

Ketika baru sampai di penginapan hotel Nirwan di Bojonegoro, memesan tempat penginapan paling murah sesuai isi kantong. Saya beserta bapak masuk ke kamar yang sudah di pesan, lumayan mahal bagi kami yang datang dari pelosok desa. Harganya 175.000/ kamar, lengkap dengan fasilitas dua kasur, TV dan lain sebagainya. Oh ya sarapannya gratis.

BACA JUGA  Erick Thohir Ditunjuk Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Ormas SMP Apresiasi dan Mendukung

Setelah bosan di kamar,saya mencoba keluar mencari angin segar. Setelah berkeliling sekitar setengah jam,saya balik ke hotel tempat penginapan.

Ketika mau masuk kamar,saya melihat salah seorang pengunjung sedang menikmati rokok dan kopi yang disediakan pelayan hotel. Saya coba menghampiri dan mengajak berbincang.

Pertanyaan pertama sebagai pembuka pembicaraan dengan orang baru biasanya nanya dari mana,nama dan keperluan disini apa.Namanya mas Wahyu dari Tegal yang berproses sebagai driver pengangkutan barang antar kabupaten se-pulau Jawa.

Setelah berbincang sekian lama,saya mencoba mengubah topik pembicaraan.

” Mas tau TGB ? “. Saya bertanya memulai topik baru. Sambil nyengir dan menggelengkan kepala ia menjawab ” ndak mas “. “Masa ndak tau TGB ?” Dengan nada yang agak meninggi saya tanya lagi. Namun tetap saja tidak tau. ” TGB atau biasanya di panggil tuan guru bajang Zainul Majdi masa mas nggak tau ?? . Ndak pernah nonton tv ?? “.Tanya saya sambil tersenyum. Namun ia tetap saja menggelengkan kepalanya.

Saya tanya lagi. ” Mas tau Nahdlatul Wathan ? Ormas terbesar di NTB yang di dirikan oleh Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.” Sambil merasa risih ia lantas menjawab ” Ndak mas”. “Masa ndk tau pahlawan nasional dari NTB ?? ” Saya yang bertanya lebih merasa heran.

Karena melihat ketidaktahuannya tentang NW, lantas saya mencoba menjelaskannya semampu dan sepengetahuan pribadi. Bahkan ia tertarik dengan Ma’had Darul Qur’an wal Hadist Al – Majidiyah As- Syafi’iyah Nahdlatul Wathan.

Bahkan ia memberi masukan untuk membuat lembaga – lembaga pendidikan dan sosial dakwah yang berafiliasi dengan NW di Jawa agar mudah di kenal.

Seingat saya,ada lembaga pendidikan di bawah naungan NW di Jawa,tapi saya tidak tau tempatnya. Barangkali ini kesalahan saya yang kurang mencari informasi tentang hal tersebut. Juga, orang yang saya tanya adalah satu dari jutaan penduduk Jawa yang belum saya tanya. Dan pastinya ada saja yang mengetahui tentang TGB ataupun Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Tidak heran, karena NW basisnya besar di Indonesia bagian timur,jadi wajar.

BACA JUGA  MUTIARA HIKMAH (10) PROSPEK MEDIA SINAR5NEWS.COM Oleh : Abu Akrom

Ini juga menjadi PR kita bersama,PWNW,PDNW,PCNW, Muslimat, Banom NW serta para pecinta NW untuk mensyiarkan tentang gagasan Maulana Syaikh yang dibawa dengan motor Nahdlatul Wathan.

Mendengar saran dari mas wahyu tadi,saya ingat cerita dalam buku “Kiprah Nahdlatul Wathan” yang di tulis oleh Anjum – Anjum NW. Dalam buku tersebut, Maulana Syaikh pernah mengatakan bahwa “meskipun orang lain membangun madrasah dengan sekop,dan kita membangun dengan jarum, intinya adalah Istikomah !!”. Yah betul Istikomah!!.

Bahkan kata ” Istikomah” itu selalu digaungkan dan menjadi semangat juang para Anjum NW yang disanding dengan kata “yakin, ikhlas dan Istikomah”.

Saya ingat juga kata Muhammad Hatta tentang pemuda yang saya sering pelintir dan katakan di teman – teman pemuda dan mahasiswa

Nahdlatul Wathan itu tidak bercahaya karena satu obor besar di Jakarta. Tapi, Nahdlatul Wathan itu bercahaya karena lilin – lilin kecil yang ada di desa. Banyak murid, tamatan NW,kader NW dan pecinta NW yang berperan di desa dengan membangun madrasah, membaca hizib dan menghidupkan tradisi NW di pelosok negeri. Dan itulah yang menghidupkan NW dan menjadi ruh perjuangan.

Surabaya,13 Januari 2021